Catatan Ide sederhana

Hegel Dan Dialektika

  1.  Kehidupan singkat George Wilhelm Friedrich
 George Wilhelm Friedrich adalah seorang filsuf idealis Jerman yang lahir di Stuttgart, Württemberg, kini di Jerman barat daya, pada tanggal 27 Agustus 1770  dan  meninggal pada  14 November 1831 saat  umur 61 tahun. Hegel lahir dari keluarga kelas menengah yang mapan di Stuggart, ayahnya adalah seorang pegawai negri dalam administrasi pemerintahan di Wuttemberg.[1]
Awal mulanya hegel adalah seorang teolog kristiani hal ini dibuktikan dengan gelar doktor  dalam teologinya saat belajar di Universitas Tubingen pada tahun 1791, dan karya nya tentang agama Kristen yang berjudul The life of Jesus dan  The Spirit of Christianity[2].  Saat dia mulai masuk masuk seminari (sekolah pendidikan calon imam di dalam Agama Katolik) di Universitas Tuebingen pada tahun 1788 dia bertemu Friedrich Schelling ( 1775-1843) seorang filsuf idealis ternama dijerman pada masa itu. Setelah pertemuannya dengan Schelling, Hegel mulai bersinggungan dengan dunia filsafat dan melanjutkan studinya dalam bidang filsafat di Universitas Jena. Pada tahun 1801 dia mendapatkan gelar doktor filsafat dengan disertasi berjudul De Orbitis Planetarium ( mengenai Orbit Planet)[3].
Berkenaan dengan kematiannya, Muhammad Saleh J. Al-Hasni mengatakan :
Pada tanggal 10 November 1831, Hegel memberikan kuliah pembukaan di universitas Berlin, tiga hari kemudian terkena serangan “Kolera jenis paling intensif” (begitu keterangan dokter saat itu) yang lalu merenggut jiwanya pada keesokan harinya, 11 November 1831. Di atas mejanya ditemukan sketsa tulisannya tentang bukti-bukti bagi adanya Allah. Atas permintaannya sewaktu masih hidup, Hegel dikuburkan di samping GERG FICHTF (1762-1861), rekan filsufnya[4].

  1. Dialektika Hegel

 Seperti yang telah disinggung diatas bahwa Hegel merupakan salah satu filsuf  idealis (salah satu aliran filsafat yang memandang bahwa realitas hakiki hanya ada dalam dunia ‘idea’). pandangan dalam memahami realitas dengan mementingkan rasio akal. Hal ini tergambar dalam pemikirannya dalam memahami antara rasio dan realitas dalam pernyataan Ahmad Tafsir yang menyebutkan bahwa:
“Dalil  Hegel yang terkenal berbunyi  ‘ semua yang real bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat real’. Maksudnya , luasnya rasio sama dengan luasnya realitas. Realitas seluruhnya adalah proses pemikiran( idea, menurut istilah Hegel) yang memikirkan dirinya sendiri. Atau dengan perkataan Hegel yang lain, realitas seluruhnya  adalah roh  yang lambat-laun menjadi sadar akan dirinya. Dengan mementingkan rasio, Hegel sengaja beraksi terhadap kecenderungan intelektual ketika itu yang mencuriogai rasio sambil mengutamakan perasaan” [5].

Selain itu , Hegel merupakan salah satu filsuf yang dipengaruhi Kant,  yang inti dari metode berpikir Kant adalah mencari kondisi kemungkinan pengetahuan manusia, dan pencarian dasar rasional dalam memahami fenomema yang dilihat[6]. Akan tetapi, Hegel bukanlah pengikut Kant, bahkan dia sangat berbeda dengan Kant, terutama dalam masalah keterbatasan akal[7].

Inti pusat filsafat Hegel adalah konsep Geist ( roh, spirit) . Menurut Purwo Husodo hegel membagi  geist ini menjadi dua bagian yaitu sebagai roh obyektif (Geist an sich), dan sebagai roh subyektif (geist fur sich). Kedua bagian ini berlangsung terus menerus menuju puncak sintesa tertinggi  yaitu roh mutlak(geist an und fur sich). Roh mutlak ini akan tercapai saat roh obyektif telah melepaskan diri dari dikotomi antara subyek dan obyek. Bila tahap roh mutlak sudah tercapai maka sejarah pun selesai[8].
Keberlangsungan dari dua roh ini dalam filsafat Hegel ini dapat dijelaskan dengan tiga fase, yang nantinya konsep ini disebut dengan "dialektika". Tiga fase tersebut yaitu:pertama adalah Tesis yakni membangun suatu pernyataan tertentu. kedua adalah antitesis, yakni suatu pernyataan argumentatif yang menolak tesis. Dan yang ketiga adalah sintesis, sebuah upaya untuk menomparasikan tesis dan antithesis[9]. Kemudian sintesis ini menjadi tesis baru yang kemudian akan muncul antitesis baru dan selanjutnya memunculkan sintesis baru. Proses akan berlangsung secara terus, tesis baru, antithesis, sintesis baru dan seterusnya.
  

Menurut Hegel , sejarah dapat dikatakan belum berakhir dalam arti bahwa masih ada hari depan, karena peristiwa-peristiwa masih berlangsung. Namun sebaliknya hegel juga mengatakan bahwa sejarah sudah mencapai masa akhir dalam arti tidak akan ada lagi penemuan-penemuan yang benar-benar baru, sejarah hanya dapat mengulangi bentuk-bentuk atau tahap-tahap yang lama[10].
Mengutip dari Bertens (1979:69), Ahmad Tafsir menjelaskan salah satu contoh aplikasi dialektika sebagai berikut:
Ada tiga bentuk negara : 1, ditktatur, di sini hidup kemasyarakatan diatur dengan baik , tetapi warga negara tidak mempunyai kebebasan (tesis).2, keadaan ini menampilkan lawannya , negara anarki (anti tesis), dalam bentuk ini warga negara mempunyai kebebasan tanpa batas, tetapi kehidupan kacau. 3, negara demokrasi sebagai Sintesis, dalam bentuk ini kebebasan warga negara dibatasi oleh undang-undang, dan hidup masyarakat tidak kacau[11]
           
Dari sini dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan Hegel, dialektika tidak hanya digunakan untuk menjelaskan realitas sosial, namun juga keberlangsungan tiga fase ini berada dalam realitas[12]. Oleh karena itu Purwo Husodo mengatakan, dalam pandangan Hegel sejarahdapat dikatakan  masih belum berakhir karena realita terus berlangsung, disisi lain keberlangsungan tersebut merupakan bentuk yang merupakan pengulangan dan atau perkembangan dari bentuk-bentuk lama, bukan wajah baru yang dalam arti ini hegel mengatakan bahwa sejara telah selesai.[13]
C. Sumber Bacaan

Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra , Cetakan XII ( Bandung, : PT. RosdaKarya Offset, 2003)

Drs. Purwo Husodo , “ Fisafat Sejarah Oswald Spengler”, Cetakan I ( Yogyakarta:Interaksi publisher,2010)
Reza  A. A Wattimena , “Hegel Dan Dialektika”  http/ www. Rumahfilsafat.com (di akses pada 16 agustus 2009)

Muhammad Shaleh J. Al-Hasni, “ Filsafat Dialektika George Wilhelm Fredrich Hegel” http://sevenbusinesscenter.blogspot.com( Diakses pada 27 mei 2012)

  “George Wilhelm Friedrich “ , http://id.wikipedia( di akses pada 30 Desember 2014)

Tag : Refleksi
1 Komentar untuk "Hegel Dan Dialektika"

Mantap, yus.
Sering-sering bikin postingan baru.
Sering-sering berkomentar di blog orang lain.
Sering-sering baca-baca.
Sering-sering lah pokoiknya....

Back To Top