Malam itu, sumpek benar-benar sudah sampai di ubun-ubun. Lewat 3 hari sudah, suasana liburan di rumah berjalan apa adanya. Paginya, bantu-bantu orang tua. Sore hari hujan turun. Dan malam, dinginnya minta ampun. Sisanya, tidak ada apa-apa. Adanya, mendekap saja.
Tak kuat dengan kesuntukan ini, malam itu pula, kugelar alas tebal di pelataran rumah. Alas ini Kududuki, berbagi dengan segelas kopi panas dihadapan. Sepi jadi satu-satunya kawan. Apalagi langit malam, masih dengan teguh menganugrahkan gerimis yang tak kunjung usai, yang lalu menyisakan bulir-bulir air di ujung emperan. Dinginnya bukan main. Tapi, niatku untuk tak hanya mendekap, juga tak main-main.
Aku pikir; kalau hanya sendiri, aku tak yakin bisa bertahan. Disini, kopi saja, panasnya tak bertahan. Dalam hitungan menit saja, kopi yang semula berkepulan asap akan turun level menjadi hangat. Di level ini, kopi hangat akan dingin terburu-buru. Kalau sudah dingin, bagi anda, khususnya penikmat kopi, sudah tak afdol lagi kenikmatan nyeruputnya. Karena itu, ku harus cari cara agar bisa bertahan. Sebelum kopi yang hanya segelas tadi juga bertahan di posisi yang tidak diinginkan. Cellep!
Pikir pendek, kupasang sandal, lalu mendatangi teman-teman yang rumahnya berdekatan. Eit, sebelumnya nyruput kopi dulu mumpung belum keburu dingin.
Sesampai di tujuan, kuakali mereka bahwa 'ada hal yang perlu dibicarakan'. Tempatnya dirumah dan sudah kupersiapkan. Selesai tiga rumah kudatangi, segera aku kembali. Dan di emperan tadi aku bersiap-siap menyambut mereka dengan sebungkus cigaret yang penuh isi.
Tidak lama menunggu. Hasilnya, dua orang datang menyusul dan lalu melingkari segelas kopi yang sudah diambang 'kedinginan'. Keduanya, merupakan kawan bermain saat kecil dulu. Kawan bermain mulai dari petak umpet, layang-layang, pesepakbola di halaman rumah atau sepak lumpur di petak-petak sawah yang baru dipanen. Secara beruntut permainan itu kami tinggalkan semenjak kami dikirim ke pondok pesantren yang berbeda. Walaupun berbeda usia, dulu ukuran fisiknya tidak ada perbedaan yang menonjol. Kini, sudah sangat berbeda. Terutama tinggi badan. Kecuali saya, yang sebenarnya paling tua diantara keduanya, masih bertahan di posisi yang paling ideal menurut ukuran badan saya. Alhamdulillah. (Di sini,dipersilahkan untuk ketawa dulu).
************
Obrolanpun mengalir antar kenangan dulu dan pengalaman selama dipesantren. Kopi yang berada ditengah kami sudah dingin masih meninggalkan sisa setengah gelas. Ya, hanya saya yang paling rajin menyeruput kopinya. Sedang mereka berdua jarang-jarang. Maklum, keduanya memang bukan pelahap asap rokok seperti saya.
Tak lama setelah itu, datang lagi seorang dan langsung gabung. Dia juga teman bermainku dulu. Usianya lebih muda tiga tahun dari saya. IT inisial namanya. Diantara kami, hanya dia yang tak meneruskan belajar, mondok atau sekolah.
Setelah lama dan jarang bertemu, aku penasaran dengannya saat ini. Apalagi penampilannya berbeda dengan dia dulu. Dan mengherankan. Bagaimana tak heran? saat dingin seperti ini, hanya kaos pendek dengan celana ( itu pun sobek di bagian dengkul) saja yang dia pakai. Tak ada rangkapan kemeja apalagi jaket. Padahal, kami, yang sedari awal berbaju lengan panjang rangkap jaket tebal saja, bersendekap untuk membantu mengurangi dingin yang menusuk.
" biasa saja, tidak usah heran. ini masih mending, kan ada di rumah. Dibanding udara di jalanan, ini mah belum seberapa" tukasnya dalam Bahasa Madura, seolah dia mendengar keheranan kami.
Mendengar itu, aku berkesimpulan dia berarti sudah berpengalaman mersakan udara malam di jalan-jalan. Akupun penasaran, apa dia sudah pengalaman hidup di jalanan.
"Ya. Hampir tiap hari, aku habiskan malam di jalanan" katanya mulai bercerita. Lalu melanjutkan " kita kalau ngumpul-ngumpul ya markasnya di pinggir-pinggir jalan begitu. Apalagi kalau pas ada konser , pergi pulangnya, nginapnya di pinggir-pinggir jalan begitu. Syukur kalau ada toko tutup, kita bisa numpang tidur di emperan tokonya kalau pas malam hari"
Akupun menggeliat penasaran. apalagi saat mendengar kata "kita". "Siapa saja mereka?" Tanyaku spontan.
"Kita menyebutnya dengan OSD" tegasnya.
Setelah secangkir kopi panas mengepulkan asap di depan mata, aku pun terus melancarkan pertanyaan soal OSD. Dan tanpa basa-basi dia menjawab dengan sangat 'akrab'. Bahkan dengan tidak ragu-ragu untuk buka-buka'an soal OSD (outsider).
***************
Outsider adalah salah satu perkumpulan para fans SID ( Superman Is Died), grup band dengan aliran musik metal asal Bali. fans cewek mereka sebut Lady Rose, dan fans cowok dengan Outsider. Outsider ini terbentuk pada tahun 1995, tahun yang sama terbentuknya SID. Outsider ini dibentuk untuk menampung para penggemar SID untuk berkreasi dan berimajinasi, selain pulabuntuk mendukung, meramaikan pelaksanaaan konser SID itu sendiri. Awalnya komunitas ini hanya ada di jogja. Lambat laun, di kota-kota lain terbentuk OSD-Osd baru. Disetiap OSD, ada satu orang yang dianggap koordinator. Selain untuk mengoordinir anggotanya ketika ada konser SID, koordinator ini pula yang menjadi penengah jika diantara anggotanya terjadi perselisihan. Ya hanya itu saja. Sisanya, baik koordinator atau anggota, sama. Tidak ada yang lebih tinggi, apalagi direndahkan.
Meskipun dipilih secara tidak sengaja, Nama Outsider dianggap sangat pas, karena diantara kata ini terdapat kata 'SID', singkatan nama band kebanggan mereka. Sesuai dengan arti dari outsider, "sisi luar", para anggota di dalamnya lebih sering berada dijalanan. Apalagi kalau ada konser di luar daerah. Maka, para outsider ramai-ramai untuk menontonnya tanpa kendaraan bahkan tanpa uang. Salah satu solusinya, jalan kaki sama-sama. Atau kadang 'nebeng' kendaraan semisal truck atau pick up kalau lagi mujur diberikan tumpangan. Selama dalam perjalanan itu, kebutuhan makan mereka cukupi dengan ngamen di sepanjang jalan. Soal tidur, tempat tidak jadi masalah. Di trotoar, pinggir jalan, atau emperan toko tak dipermasalahkan, yang penting kebutuhan tidur bisa tercukupi. Karena kebiasaannya ini, mereka tidak jarang mendapat sebutan anak jalanan, bar-bar dan seterusnya.
*****
Yang dialami oleh para outsider, begitu pula juga dirasakan temanku ini. Kucoba bertanya " mengapa mau hidup kayak begitu"
" Senang. Jalan rame-rame, susah rame-rame itu seneng. Bahkan 'gandol' dibagian bak belakang truck walaupun berbahaya, kalau bareng-bareng juga seneng". Katanya sambil kembali menyulut rokok lintingannya sendiri. Entah berapa batang rokok yang sudah kami habiskan. Satu, dua, tiga. Belum selesai aku menghitung putung rokok yang menggeletak di asbak, dia melanjutkan " Banyak yang aku dapat dijalanan. Dari jalananlah aku rasakan susah dan senang benar-benar. Benar-benar susah, juga benar-benar senang. Senangnya aku dapatkan dari kebersamaan itu. Apapun yang kita temui dijalan, kita rasakan dan hadapi bersama. Banyak atau sedikit, cukup atau tidak. Semua dilakukan bersama sama. Seperti makan, dicaci, manjat, itu semua kita lakui bersama-sama. Kalau susahnya, Susahnya dijalan ini aku rasakan kerasnya hidup. Untuk sebungkus nasi saja butuh keringat dan malu untuk mendapatkannya. Sebatang rokok susah dapatnya, tapi kalau dapat , ya kita habisi bersama. Untuk mendapat itu, lawong uang saja kita tidaka bawa, ya kita ngamen. Kadang, kalau tidak cukup kita ngumpulin sisa-sisa makanan dan putung rokok di warung-warung atau di tempat-tempat umum. Cacian orang, pandangan sinis sebelah mata, itu biasa. Tidak perlubuntuk diperdulikan. Yang penting kita enggak nyuri atau ngerampas punya orang lain, kayak para koruptor itu " katanya tanpa senyum.
Dengan tanpa santai dia menambahkan "Bagi saya 100 rupiah itu sangat bernilai dan tak akan aku remehkan. Tak jarang mendapatkannya dengan tambahan 'direndhakan" sipemberi uang. Orang ngasih 200 apalagi 500 rupiah, bagi saya, senangnya bukan main".
" Lantas, mengapa kamu terus bertahan hidup begitu. Apa tak ada niatan untuk hidup dan kerja di sini (desa) saja?"
" saya sebenarnya ingin sekali melanjutkan sekolah. Dulu saya punya cita-cita untuk mondok. Namun, karena kemampuan ekonomi yang tak mujur, keinginan tadi, sampai saat ini, tak lebih dari sebatas mimpi belaka. Sayapun tidak pernah menyana akan jadi begini. Aku saja tak sadar sejak kapan masuk dalam dunia macam ini. Ya sudahlah. Mau bagaimana lagi. Saya terus berharap tak terus seperti ini" katanya tegas, santai dan percaya diri.
Sampai di sini tak kuasadari malam sudah lewat dini hari. Secangkir kopi telah tuntas bersama sebungkus rokok yang sudah tak berisi.
Begitupun penasaranku selama ini, Sedikit-banyak telah hilang dan berganti pada kesimpulan " hargai yang lain. Kalau tidak, tak usah mencaci. Apalagi merendahkan yang lain. Toh, kita juga tak pernah peduli. Hach!"
Tak kuat dengan kesuntukan ini, malam itu pula, kugelar alas tebal di pelataran rumah. Alas ini Kududuki, berbagi dengan segelas kopi panas dihadapan. Sepi jadi satu-satunya kawan. Apalagi langit malam, masih dengan teguh menganugrahkan gerimis yang tak kunjung usai, yang lalu menyisakan bulir-bulir air di ujung emperan. Dinginnya bukan main. Tapi, niatku untuk tak hanya mendekap, juga tak main-main.
Aku pikir; kalau hanya sendiri, aku tak yakin bisa bertahan. Disini, kopi saja, panasnya tak bertahan. Dalam hitungan menit saja, kopi yang semula berkepulan asap akan turun level menjadi hangat. Di level ini, kopi hangat akan dingin terburu-buru. Kalau sudah dingin, bagi anda, khususnya penikmat kopi, sudah tak afdol lagi kenikmatan nyeruputnya. Karena itu, ku harus cari cara agar bisa bertahan. Sebelum kopi yang hanya segelas tadi juga bertahan di posisi yang tidak diinginkan. Cellep!
![]() |
| Image (Renemada) |
Pikir pendek, kupasang sandal, lalu mendatangi teman-teman yang rumahnya berdekatan. Eit, sebelumnya nyruput kopi dulu mumpung belum keburu dingin.
Sesampai di tujuan, kuakali mereka bahwa 'ada hal yang perlu dibicarakan'. Tempatnya dirumah dan sudah kupersiapkan. Selesai tiga rumah kudatangi, segera aku kembali. Dan di emperan tadi aku bersiap-siap menyambut mereka dengan sebungkus cigaret yang penuh isi.
Tidak lama menunggu. Hasilnya, dua orang datang menyusul dan lalu melingkari segelas kopi yang sudah diambang 'kedinginan'. Keduanya, merupakan kawan bermain saat kecil dulu. Kawan bermain mulai dari petak umpet, layang-layang, pesepakbola di halaman rumah atau sepak lumpur di petak-petak sawah yang baru dipanen. Secara beruntut permainan itu kami tinggalkan semenjak kami dikirim ke pondok pesantren yang berbeda. Walaupun berbeda usia, dulu ukuran fisiknya tidak ada perbedaan yang menonjol. Kini, sudah sangat berbeda. Terutama tinggi badan. Kecuali saya, yang sebenarnya paling tua diantara keduanya, masih bertahan di posisi yang paling ideal menurut ukuran badan saya. Alhamdulillah. (Di sini,dipersilahkan untuk ketawa dulu).
************
Obrolanpun mengalir antar kenangan dulu dan pengalaman selama dipesantren. Kopi yang berada ditengah kami sudah dingin masih meninggalkan sisa setengah gelas. Ya, hanya saya yang paling rajin menyeruput kopinya. Sedang mereka berdua jarang-jarang. Maklum, keduanya memang bukan pelahap asap rokok seperti saya.
Tak lama setelah itu, datang lagi seorang dan langsung gabung. Dia juga teman bermainku dulu. Usianya lebih muda tiga tahun dari saya. IT inisial namanya. Diantara kami, hanya dia yang tak meneruskan belajar, mondok atau sekolah.
Setelah lama dan jarang bertemu, aku penasaran dengannya saat ini. Apalagi penampilannya berbeda dengan dia dulu. Dan mengherankan. Bagaimana tak heran? saat dingin seperti ini, hanya kaos pendek dengan celana ( itu pun sobek di bagian dengkul) saja yang dia pakai. Tak ada rangkapan kemeja apalagi jaket. Padahal, kami, yang sedari awal berbaju lengan panjang rangkap jaket tebal saja, bersendekap untuk membantu mengurangi dingin yang menusuk.
" biasa saja, tidak usah heran. ini masih mending, kan ada di rumah. Dibanding udara di jalanan, ini mah belum seberapa" tukasnya dalam Bahasa Madura, seolah dia mendengar keheranan kami.
Mendengar itu, aku berkesimpulan dia berarti sudah berpengalaman mersakan udara malam di jalan-jalan. Akupun penasaran, apa dia sudah pengalaman hidup di jalanan.
"Ya. Hampir tiap hari, aku habiskan malam di jalanan" katanya mulai bercerita. Lalu melanjutkan " kita kalau ngumpul-ngumpul ya markasnya di pinggir-pinggir jalan begitu. Apalagi kalau pas ada konser , pergi pulangnya, nginapnya di pinggir-pinggir jalan begitu. Syukur kalau ada toko tutup, kita bisa numpang tidur di emperan tokonya kalau pas malam hari"
Akupun menggeliat penasaran. apalagi saat mendengar kata "kita". "Siapa saja mereka?" Tanyaku spontan.
"Kita menyebutnya dengan OSD" tegasnya.
Setelah secangkir kopi panas mengepulkan asap di depan mata, aku pun terus melancarkan pertanyaan soal OSD. Dan tanpa basa-basi dia menjawab dengan sangat 'akrab'. Bahkan dengan tidak ragu-ragu untuk buka-buka'an soal OSD (outsider).
***************
Outsider adalah salah satu perkumpulan para fans SID ( Superman Is Died), grup band dengan aliran musik metal asal Bali. fans cewek mereka sebut Lady Rose, dan fans cowok dengan Outsider. Outsider ini terbentuk pada tahun 1995, tahun yang sama terbentuknya SID. Outsider ini dibentuk untuk menampung para penggemar SID untuk berkreasi dan berimajinasi, selain pulabuntuk mendukung, meramaikan pelaksanaaan konser SID itu sendiri. Awalnya komunitas ini hanya ada di jogja. Lambat laun, di kota-kota lain terbentuk OSD-Osd baru. Disetiap OSD, ada satu orang yang dianggap koordinator. Selain untuk mengoordinir anggotanya ketika ada konser SID, koordinator ini pula yang menjadi penengah jika diantara anggotanya terjadi perselisihan. Ya hanya itu saja. Sisanya, baik koordinator atau anggota, sama. Tidak ada yang lebih tinggi, apalagi direndahkan.
Meskipun dipilih secara tidak sengaja, Nama Outsider dianggap sangat pas, karena diantara kata ini terdapat kata 'SID', singkatan nama band kebanggan mereka. Sesuai dengan arti dari outsider, "sisi luar", para anggota di dalamnya lebih sering berada dijalanan. Apalagi kalau ada konser di luar daerah. Maka, para outsider ramai-ramai untuk menontonnya tanpa kendaraan bahkan tanpa uang. Salah satu solusinya, jalan kaki sama-sama. Atau kadang 'nebeng' kendaraan semisal truck atau pick up kalau lagi mujur diberikan tumpangan. Selama dalam perjalanan itu, kebutuhan makan mereka cukupi dengan ngamen di sepanjang jalan. Soal tidur, tempat tidak jadi masalah. Di trotoar, pinggir jalan, atau emperan toko tak dipermasalahkan, yang penting kebutuhan tidur bisa tercukupi. Karena kebiasaannya ini, mereka tidak jarang mendapat sebutan anak jalanan, bar-bar dan seterusnya.
*****
Yang dialami oleh para outsider, begitu pula juga dirasakan temanku ini. Kucoba bertanya " mengapa mau hidup kayak begitu"
" Senang. Jalan rame-rame, susah rame-rame itu seneng. Bahkan 'gandol' dibagian bak belakang truck walaupun berbahaya, kalau bareng-bareng juga seneng". Katanya sambil kembali menyulut rokok lintingannya sendiri. Entah berapa batang rokok yang sudah kami habiskan. Satu, dua, tiga. Belum selesai aku menghitung putung rokok yang menggeletak di asbak, dia melanjutkan " Banyak yang aku dapat dijalanan. Dari jalananlah aku rasakan susah dan senang benar-benar. Benar-benar susah, juga benar-benar senang. Senangnya aku dapatkan dari kebersamaan itu. Apapun yang kita temui dijalan, kita rasakan dan hadapi bersama. Banyak atau sedikit, cukup atau tidak. Semua dilakukan bersama sama. Seperti makan, dicaci, manjat, itu semua kita lakui bersama-sama. Kalau susahnya, Susahnya dijalan ini aku rasakan kerasnya hidup. Untuk sebungkus nasi saja butuh keringat dan malu untuk mendapatkannya. Sebatang rokok susah dapatnya, tapi kalau dapat , ya kita habisi bersama. Untuk mendapat itu, lawong uang saja kita tidaka bawa, ya kita ngamen. Kadang, kalau tidak cukup kita ngumpulin sisa-sisa makanan dan putung rokok di warung-warung atau di tempat-tempat umum. Cacian orang, pandangan sinis sebelah mata, itu biasa. Tidak perlubuntuk diperdulikan. Yang penting kita enggak nyuri atau ngerampas punya orang lain, kayak para koruptor itu " katanya tanpa senyum.
Dengan tanpa santai dia menambahkan "Bagi saya 100 rupiah itu sangat bernilai dan tak akan aku remehkan. Tak jarang mendapatkannya dengan tambahan 'direndhakan" sipemberi uang. Orang ngasih 200 apalagi 500 rupiah, bagi saya, senangnya bukan main".
" Lantas, mengapa kamu terus bertahan hidup begitu. Apa tak ada niatan untuk hidup dan kerja di sini (desa) saja?"
" saya sebenarnya ingin sekali melanjutkan sekolah. Dulu saya punya cita-cita untuk mondok. Namun, karena kemampuan ekonomi yang tak mujur, keinginan tadi, sampai saat ini, tak lebih dari sebatas mimpi belaka. Sayapun tidak pernah menyana akan jadi begini. Aku saja tak sadar sejak kapan masuk dalam dunia macam ini. Ya sudahlah. Mau bagaimana lagi. Saya terus berharap tak terus seperti ini" katanya tegas, santai dan percaya diri.
Sampai di sini tak kuasadari malam sudah lewat dini hari. Secangkir kopi telah tuntas bersama sebungkus rokok yang sudah tak berisi.
Begitupun penasaranku selama ini, Sedikit-banyak telah hilang dan berganti pada kesimpulan " hargai yang lain. Kalau tidak, tak usah mencaci. Apalagi merendahkan yang lain. Toh, kita juga tak pernah peduli. Hach!"
Tag :
Cerito

0 Komentar untuk "Cengkrama Bersama Outsider"