Catatan Ide sederhana

Digital Immigrant dan Digital Native, Siapakah kita diantara keduanya?




Hadirnya tekhonologi di millenium 2000 dapat kita lihat realitanya, terkhusus tekhnologi internet. Konsumennya tidak pandang dimana dia berada. Tidak hanya diluar negeri, Indonesia menjadi penyuplai konsumen internet dengan jumlah besar.   Menurut data yang saya temukan ada
50 juta jiwa penduduk dari 238 juta jiwa, 25 persen warga indonesia sudah dekat, bahkan akrab dengan dunia internet (lihat di: https://tingkatdua.wordpress.com/2012/11/01/generasi-digital-native/). 
Kenyataan pengguna internet di tempat-tempat pribadi, tempat umum, tempat kerja, sekolah, bahkan di ladang oleh semua usia menjadi hal yang tak perlu dianehkan maujudnya. Perbedaan usia pengguna kadang juga menjadi perbedaan penggunaan teknologi yang ada. Smartphone misalnya, menjadi alat untuk mengakses informasi, pengetahuan, penunjang kerja bagi sebagian orang. Bagi kalangan anak-anak, gadget mungkin saja hanya sekedar digunakan untuk bermain game atau penyedia hiburan yang lain.    Perbedaan-perbedaan tersebut selanjutnya melahirkan istilah “ digital immigrant” dan “digital native”.
Istilah “ digital Immigrant” mengacu pada generasi yang lahir dan hidup sebelum internet dan sesudahnya. Generasi ini sempat hidup tanpa adanya kemudahan untuk berselancar di dunia maya, dan di tengah-tengah usianya dia mulai dapat mengenal atau bahkan akrab dengan dunia internet. Sedangkan Istilah digital native (digital sejak lahir) mengarah pada generasi yang lahir dan hidup seiring dengan lahirnya internet dan perkembangannya. Beberapa media menyatakan bahwa generasi digital native ini ialah mereka yang dilahirkan awal 1990-an. Meski demikian, sebagian mereka yang lahir sebelum 90-an juga dapat menggunakan internet, tidak dapat sekaligus untuk dinafikan.
Image Sources
Mengacu kepada dua istilah tersebut, dalam persoalan metodologi, generasi digital native memilik tabiat dan kebiasaan yang lebih akrab dengan media internet, ketimbang generasi digital immigrant. Contoh yang mudah didapat, akrabnya kalangan anak-anak dengan teknologi internet di sekitar kita. Apalagi hadirnya smartphone yang semakin memudahkan penggunanya untuk berlalu-lintas di dunia maya, kadang anak-anak lebih faham mengoperasikannya ketimbang orang tuanya. Contoh lain adalah maraknya selfie beserta hasil-hasilnya, status fb, kicauan twitter, dll kebanyakan berasal dari kalangan remaja dan anak-anak.  Hal ini memberikan indikasi semakin rengganngnya posisi teknologi internet antara kedua generasi tersebut. Lantas,  apakah memang demikian?
Kalau kita lacak, dua istilah ini muncul dari Prensky melalui tulisan-tulisannya pada tahun 2001. Penulis asal Amerika dengan nama Marc Prensky itu, meyakini adanya perbedaan dalam cara berpikir dan memroses informasi. Menurutnya, otak, gaya hidup anak-anak yang sejak dini sudah menengenal dunia komputer dan dunia internet, berbeda dengan generasi sebelumnya. Dari  sinilah dengan tanpa ragu Prensky membuat batas-batas antar generasi. Diantara batas-batas itu, munculnya istilah born digital ( lahir sudah digital) dan net savvy( kefasihan dalam berjejaring). Hal ini didapat dari keriasuannya. Sebagai pendidik, dia menemukan kesenjangan-kesenjangan antara peserta didik—perwakilan dari generasi digital native—dengan pendidik, generasi “digital immigrant”.
Pandangan,  yang menyangkut budaya dan gaya hidup antara generasi muda dan sebelumnya, itu, mendapat tanggapan negativ dari Prof. Neil Selwyn. Dia menyatakan pandangan itu tidak lebih dari sekedar dari kepanikan moral semata. Sehingga wacana kafasihan generasi muda—dinilai lebih dari generasi sebelumya--dalam menggunakan dan mengolah teknologi informasi, merupakan anggapan berlebihan yang tidak dapat dibuktikan secara empirik. Sehingga pandangan Prensky belum layak untuk disebut sebagai sebuah konsep ilmiah (Putu Laxman Pendit: 2013).
Dengan dua pandangan tersebut, kita dapat lebih dengan seksama untuk menyadari pola budaya generasi muda saat ini dengan hadirnya teknologi informasi yang kian melejit. Apalagi dengan melihat keadaan sekitar kita. Ambillah salahsatu contohnya,  hasil riset yang dilakukan oleh kementrian Kominfo pada tahun 2014,  mengatakan bahwa dari 98 persen remaja yang di survei tahu tentang internet dan 79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet. Berarti teknologi internet menjadi salah satu hal yang melekat dengan kehidupan remaja. Dari hasil ini, kiranya didapatkan pandangan lebih luas mengenai pola bagi pendidik,  bagaimana memposisikan pengetahuan dan cara belajar peserta didik dengan kemudahan teknologi saat ini. Seiring dengan semakin padat dan bebasnya lalu lintas di internet, apa yang dapat dilakukan dan berikan kepada peserta didik? Saya yakin, anda sudah lebih tahu dan lebih dapat memberikan jawaban.
Lebih luas lagi, yang sebenarnya menjadi kerisauan diri penulis, yang dapat dirangkum dalam pertanyaan ; Dengan hilangya batas-batas usia, negara, budaya dan pengetahuan di dunia maya,  bagaimana kesadaran kita tentang dunia internet? agar budaya leluhur tetap melekat pada jati diri generasi bangsa  atau bahkan kita tawarkan melalui teknologi internet, apakah yang seharusnya dilakukan? Terakhir dan paling berat, dapatkah kita tidak hanya menjadi konsumen dunia teknologi (internet dan media sosial)? Mari kita diskusikan. 
Tag : Refleksi
0 Komentar untuk "Digital Immigrant dan Digital Native, Siapakah kita diantara keduanya?"

Back To Top