( silahkan dibaca saat santai)
Meski secara Institusi Muhammadiyah lebih dahulu ada, tapi tradisi Nahdiyin telah jauh sebelum itu. Tsaqofah an-Nahdiyah ini mengakar dan tumbuh dari rahim pesantren dan menyebar luas di kalangan akar rumput bangsa Indonesia.
Setelah lahirnya Muhammadiyah, serta kuatnya faham wahabisme di Indonesia, NU Lahir menjadi sebuah organisasi, sebagai Institusi yang memiliki struktur organisasi di pelbagai daerah, terutama di desa-desa.
![]() |
| Logo Muhammadiyah dan NU |
Fenomena ini seakan ingin menegaskan bahwa NU struktural justru dibentuk untuk mengamankan NU secara kuktural, yang belakangan dikikis dan terancam keberadaannya.
Dengan ini, penulis memandang bahwa kekuatan NU bukan pada "elit centered", bukan pada alat identitas, atribut, atau bungkus yang lain. Itu semua sebatas perangkat pembantu. Kekuatan NU bermuara dan ditujukan untuk penguatan basis kultural (ats-tsaqofiah) dan konsolidasi keummatan.
Pandangan ini juga didasari pernyataaan alm. KH. Agus Sunyoto (Ketua Lesbumi PBNU) dalam sebuah forum diskusi bahwa: "di akhir-akhir kepemimpinan Gus Dur, beliau mengumpulkan para NU Muda. Dalam perkumpulan itu, Gus Dur mengungkapkan kekhawatirannya terhadap bangsa, terutama pada prinsip nilai, pola relasi antar anak bangsa dan tradisi. Karena itu, Gus Dur mengharap NU muda itu agar dapat melakukan gerakan Pribumisasi Islam ala NU untuk menahan serangan aspek sosial dan budaya akibat globalisasi". Belakangan cita-cita tersebut dapat diwujudkan melalui gerakan "Islam Nusantara" (Agus Sunyoto, 2018).
Ehmmmm, sampek di sini dulu. Ini hanya sekedar pandangan pribadi, anda boleh berbeda dan memberikan kritik.

0 Komentar untuk "NU berbeda dengan Muhammadiyah. "