Catatan Ide sederhana

Demokrasi Ala Konsulat RU I



Image: Pelantikan Bersama IKSAL dan ISMA oleh Kepala PPRU I, Gus Abdurrohim Sa'id (paling depan)

Penghujung April tahun ini, 2016, menjadi saksi pesta demokrasi ala santri PP. Raudlatul Ulum I Ganjaran. Di bulan ini,  santri disuguhkan prosesi sakral yang hanya terjadi sekali dalam dua tahun. Reformasi kepengurusan masing-masing  organisasi di PPRU I akan tergebyar mulai dari yang kecil sampai yang besar. Konsulat IKSAL, ISMA, ISKAB melangsungkan reformasi masing-masing struktur keorganisasiannya mulai akhir April dan pertengahan Mei secara berurutan.  Bagaimana Critanya? Begini…


25 April 2016

Petangnya, reformasi konsulat asal Lumajang mengawali. Tepatnya pada Jam 22.30 WIB  palu sidang KKI (kongres Keluarga IKSAL) II mengetuk  meja sidang. Bunyi ketukannya otomatis menandai pagelaran mekanisme reformasi IKSAL resmi dimulai. Pesta Demokrasi dimulai, palu bergemulai dari sidang Tatib, AD/ ART, LPJ, dan Pencalonan.

 Palu sidang tiada lelah memukul keras meja sidang di setiap pleno persidangan. Bahkan di Pleno LPJ pukulan keras di meja sidang itu, pun mengarah ke salah-satu pengurus yang dinilai minim kinerjanya. Dan tidak Jarang adanya.

Sampai pada jumlah yang tidak terhitung—atau memang sengaja tidak dihitung, ketukan nyaring menandakan pengurus periode 2014-2016 telah didomisioner dan ini ketukan penutup. Tidak ada lagi suara ketukan palu terdengar. Yang ada, tepuk tangan beriringan sorak-sorai anggota sidang saat penghitungan suara telah memperlihatkan hasil terbanyak. Itupun, beberapa saat kemudian setelah nama Ketua IKSAL periode selanjutnya diumumkan secara resmi. Sorak-sorai ini dapat anda dengar pada 26 April saat jarum jam menunjuk angka 02.00 WIB dini hari.

02 Mei 2016

Hal serupa terulang di lokasi dan konsulat berbeda. Di mulai pada jam 20.00 WIB,  Reformasi ISMA digelar di aula pojok PPRU I dan ISKAB menggelar Musat ISKAB (Musyawarah santri Terbuka Ikatan Santri Kalimantan Barat) XX di aula lt.II PPRU I. Ketukan palu sidangnya, sorak kata sepakatnya, sorai kritik pesertanya, bersaut-saut memenuhi antero lokasi masing-masing lokasi reformasi kedua konsulat tersebut. Memang tempat berbeda, tapi intensitasnya sama. Nyaringnya, serunya dan semangatnya. Keduanya, tidak kurang seru ketimbang pada malam 25 April sebelumnya. Apalagi, saat nama ketua baru terpilih. Pada pukul 23.00 Mustakim Ismail terpilih sebagai Ketua konsulat asal pulau garam, ISMA. Dan Ahmad Soleh pada pukul 01.30 dini hari selasa (3/5) mendapat suara terbanyak sebagai ketua baru konsulat tertua di PPRU I, ISKAB.
Image: Pelantikan ISKAB

Itulah gambaran proses reformasi dari masing-masing ketiga konsulat di PPRU I. semuanya berjalan lancar mulai pembukaan sampai pelantikan kepengurus periode selanjutnya. Lancar di sini, maksudnya, tanpa kontra-kepentingan yang sampai menunda persidangan, apalagi semacam persidangan tandingan seperti yang ramai terjadi di parpol saat ini.

Dari pelaksanaannya, ada hal yang membedakan pelaksanaan masing-masing. Yaitu, pelaku dan kuantitasnya. Namun meskipun ada yang membedakan, ada sisi-sisi yang sama-persis terjadi di masing-masing  pelaksanaan reformasi tersebut.  Dan ini yang menarik—menurut pribadi penulis, sehingga perlu saya obrolkan di sini.

Kesamaan itu mencolok, terutama di sesi pencalonan ketua. Sangat sulit untuk mengantongi nama anggota, satupun, yang secara suka rela untuk dicalonkan, apalagi mencalonkan diri. Sampai-sampai di saat sesi pemilihan ketua , SC mengalami kesulitan. Satu-satunya alasan, karena sampai saat penting—pemilihan ketua, masih belum ada satupun yang mencalonkan diri. Sehingga untuk mengisi kandidat calon, diambillah jalan pencalonan kandidat melalui masing-masing anggota atau penasehat organisasi. Dari kedua jalan ini, ending akhirnya sama. Keputusan  berada di ‘tangan’ anggota.

Ini bukan karena tidak ada satu sosok yang memenuhi persyaratan semacam kepantasan, kapasitas ilmu dan integritas sebagai ketua bagi masing-masing konsulat. Namun semata-mata saling merasa ada yang lain, yang lebih berhak dan pantas untuk menjadi ketua. Nihilnya nafsu untuk menduduki kekuasaan tertinggi apalagi saling memperebutkan, menjadi jawaban utama dari sekian jawaban. Rumus demokrasinya simple,  mendorong yang lain untuk bersedia jadi Ketua.

Ini semata bukan omong kosong. Sebelum reformasi—KKI atau Musat— benar-benar dilaksanakan, tentu sudah ada beberapa nama yang didengungkan pantas untuk dicalonkan sebagai kandidat ketua. Saat si pemilik nama mendengar namanya ‘mendengung’ di kalangan anggota organisasinya, serangkaian ‘serangan fajar’ kepada anggota organisasi terkait lahir sebagai akibatnya. Tanpa uang, tanpa tim sukses, pemilik nama  gencar mendatangi anggota—semua anggota dalam konsulat ini memiliki hak suara—satu persatu, dari bilik ke bilik. Tujuannya satu, mengkampanyekan calon lain yang namanya sudah ‘terdengung’ dan tidak memilih dirinya sebagi ketua.  hal serupa juga dilakukan calon yang lain. Mengkampanyekan calon lain.

Persaingan untuk memenangkan calon yang lain terjadi sengit. Bahkan, di reformasi salah satu konsulat baru-baru ini. Tiga orang terpilih sebagai kandidat ketua. mereka dipersilahkan maju di hadapan anggota untuk memberikan sepatah kata sambutan dan visi-misinya jika menjadi ketua. Yang terjadi ketiga kandidat tersebut malah mengkampanyekan calon yang lain. Tapi apa daya, keputusan terakhir ada pada pilihan anggota.

Mungkin karena  merasa berat memikul beban yang diamanahkan, di setiap puncak reformasi konsulat—penghitungan suara selesai dan memutuskan satu nama sebagai ketua terpilih, yang bersangkutan yang sebenarnya ‘pemenang’ menjadi pucat dan lemas. Yang menang merasa ‘kalah’. Yang kalah menjadi ‘pemenang’.

Beginilah drama demokrasi di konsulat. Meski tidak terlalu rumit, paling tidak telah memberikan sedikit pelajaran dan semangat  berdemokrasi.  Istilah yang ada di dalamnya—semisal kandidat calon, hak suara, kampanye dan ‘serangan fajar’—juga sama dengan istilah yang ada di PEMILU di Indonesia. Meski demikian, juga tidak persis sama. Dalam  PEMILU, kita sebangsa dan setanah air sudah tahu sama tahu. Praktiknya, permainannya dan hitam-putihnya. Berbeda sekali, bukan?
Tag : Cerito
2 Komentar untuk "Demokrasi Ala Konsulat RU I"

berarti di pesantren itu demokrasinya tidak ada istilah senggol menyenggol ya mas?

ya tetep ada sih mbak, cuma senggol-menyyeggolnya berkepentingan nyenggol calon lain untuk jadi Ketua gitu mbak,,

Back To Top