PROPOSAL
”UPAYA
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA
DALAM PEMBELAJARAN FIQIH DENGAN METODE RESITASI DAN DISKUSI”
(Penelitian
Tindakan Kelas: Kelas X MA Raudhatul Ulum Putra Ganjaran pada Mata Pelajaran Pendidikan Fiqh)
Oleh
Yusroful
Kholili
- Latar Belakang Masalah
Islam merupakan agama yang sempurna. Mencakup semua sisi hidup dan
kehidupan dari mulai sisi pribadi sampai pengurusan masyarakat secara luas,
dari mulai hubungan manusia dengan tuhannya sampai hubungan manusia dengan
manusia dan lingkungan sekitarnya. Sehingga mempelajari ajaran agama ini
merupakan sebuah kewajiban individu (fardlu ’ain), yang berkonsekuensi setiap
muslim apabila tidak mempelajarinya maka dia dihukumi berdosa.
Secara garis
besar syariat islam melingkupi akidah, akhlak, muamalah, ibadah dan sejarah
yang semua elemen ini bersumber didalam al-quran dan hadist. Mata pelajaran fiqih adalah salah satu
bagian dari Pendidikan Agama Islam yang mempelajari tentang Fiqih ibadah,
terutama menyangkut pengenalan dan pemahaman tentang cara-cara pelaksanaan
rukun islam mulai dari ketentuan dan tata cara pelaksanaan taharah, shalat,
puasa, zakat, sampai dengan pelaksanaan ibadah haji, serta ketentuan tentang
makanan dan minuman, khitan, kurban, dan cara pelaksanaan jual beli dan pinjam
meminjam, yang pada intinya bersumber
dari al-quran dan hadist.
Secara substansial, mata
pelajaran Fiqih memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta
didik untuk mempraktikkan dan menerapkan hukum Islam dalam kehidupan
sehari-hari sebagai perwujudan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan
hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan diri manusia itu sendiri, sesama
manusia, makhluk lainnya ataupun lingkungannya.
Sebaik apapun tujuan
pendidikan, jika tidak didukung oleh metode yang tepat, tujuan tersebut sangat
sulit untuk dapat tercapai dengan baik. Proses
belajar-mengajar akan berjalan
dengan baik kalau metode
yang digunakan betul-betul tepat,
karena antara pendidikan
dengan metode saling berkaitan.
Menurut Zakiah Daradjat (1959), pendidikan
adalah usaha atau tindakan
untuk membentuk manusia. Disini guru
sangat berperan dalam membimbing anak didik ke arah terbentuknya pribadi yang
diinginkan.
Berdasarkan pengalaman
penulis, pembelajaran materi Fiqih disekolah membuahkan hasil. Hal ini dapat
dilihat dengan sejumlah siswa tidak mengerti tentang syarat dan ketentuan fiqh dalam masalah muamalah, dan beberapa praktik yang tidak memenuhi
syarat dalam masalah ubudiyah. Hal ini disebabkan karena guru hanya
menggunakan metode ceramah dalam proses belajar-mengajar.
Berdasar uraian diatas
penulis mencoba menerapkan kolaborasi dua metode pembelajaran, yaitu metode
pembelajaran penugasan (resitasi) dan diskusi, untuk mengungkapkan apakah
pembelajaran dengan dua metode ini dapat
meningkatkan presatasi belajar Fiqh. Penulis memilih dua metode ini untuk membiasakan siswa untuk aktif dalam belajar baik di sekolah maupun di
rumah,memecahkan masalah yang ditemukan, didiskusikan serta untuk dipertanggung
jawabkan baik didepan kelas
Suryosubroto (1997: 179). Sedangkan guru
bertugas untuk mengarahkan dan membimbing siswa.
Dari latar belakang
tersebut, maka penulis dalam penelitian ini mengambil judul “ Meningkatkan Hasil
belajar Fiqih Dengan Metode Pembelajaran Resitasi dan Diskusi Pada Siswa Kelas
X Di MA Raudlatul Ulum Putra Ganjaran Gondanglegi Malang Tahun Pelajaran
2015/2016”
- Rumusan Masalah
Berdasar latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan suatu masalah
sebagai berikut:
1.
Bagaimanakah peningkatan Hasil belajar siswa dengan
diterapkannya pembelajaran resitasi dan diskusi dalam mata pelajaran fiqh pada siswa kelas X di MA
raudlatul ulum putra ganjaran gondanglegi malang tahun pelajaran 2015/2016 ?
- Tujuan penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui peningkatan Hasil belajar siswa setelah
diterapkannya pembelajaran resitasi dan diskusi dalam mata pelajaran fiqh pada
siswa kelas X di MA raudlatul ulum putra ganjaran gondanglegi malang tahun
pelajaran 2015/2016
- Manfaat Penelitian
Dengan penelitian ini, penulis berharap hasilnya bermanfaat bagi:
1.
Penulis, memberikan pengetahuan tambahan dalam
penerapan metode Resitasi dan Diskusi
2.
Guru, memberikan informasi tentang metode yang sesuai
denagn materi Fiqh
3.
Siswa, meningkatkan Hasil belajar siswa dalam materi
pelajaran Fiqh
4.
Sekolah, memberikan masukan bagi sekolah sebagai
pedoman untuk mengambil kebijakan disekolah tersebut, khususnya dalam
pembelajaran Fiqh
- Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini yaitu,
penerapan pembelajaranm resitasi dan diskusi dapat meningkatkan Hasil belajar siswa dalam mata pelajaran fiqh
pada siswa kelas X di MA raudlatul ulum putra ganjaran gondanglegi malang tahun
pelajaran 2015/2016
- Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah
masalah peningkatan Hasil belajar
2.
Objek sasaran penelitian ini adalah siswa kelas X MA RU
Pa
3.
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas inio dilaksanakan
di Ma Raudalatul Ulum Pa Desa ganjaran Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang
4.
Dalam penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun
pelajaran 2015/.2106
5.
Penelitian tindakan kelas ini dibatasi pada kompetensi
dasar memahami aturan islam dalam kepemilikan.
- Kajian Pustaka
- Metode Pembelajaran Penugasan (Resitasi)
Pemberian tugas adalah metode yang memberikan kesempatan
kepada siswa untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk guru secara
langsung. Dengan metode ini siswa dapat mengenali fungsinya secara nyata. Tugas
dapat diberikan kepada kelompok atau perorangan.
Metode pemberian tugas sebagai salah satu metode yang dikaji
penulis dalam pembahasan ini tentunya juga memiliki kelemahan dan kelebihan
seperti halnya dengan metode yang lain. Mengenai kelemahan dan kelebihan metode
pemberian tugas adalah sebagai berikut :
1. Kelebihan metode pemberian tugas :
a) Baik sekali untuk mengisi waktu
luang dengan hal-hal yang konstruktif.
b) Memupuk rasa tanggung jawab dalam
segala tugas pekerjaan, sebab dalam metode ini anak harus
mempertanggungjawabkan segala sesuatu (tugas) yang telah dikerjakan.
c) Memberi kebiasaan anak untuk
belajar.
d) Memberi tugas anak yang bersifat
praktis (H. Zuhairini, 1977).
2. Dari berbagai kelebihan-kelebihan
yang telah dipaparkan di atas tentunya metode pemberian tugas juga tidak
terlepas dari kelemahan-kelemahan sebagai berikut :
a) Seringkali tugas di rumah itu
dikerjakan oleh orang lain, sehingga anak tidak tahu menahu tentang pekerjaan
itu, berarti tujuan pengajaran tidak tercapai.
b) Sulit untuk memberikan tugas karena
perbedaan individual anak dalam kemampuan dan minat belajar.
c) Seringkali anak-anak tidak
mengerjakan tugas dengan baik, cukup hanya menyalin pekerjaan temannya.
d) Apabila tugas itu terlalu banyak,
akan mengganggu keseimbangan mental anak (H. Zuhairini, 1977).
Dengan memahami kelebihan dan kelemahan metode pemikiran
tugas di atas, tentunya akan menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar yang
dilakukan. Sebaliknya manakala guru tidak mengetahui kelebihan dan kekurangan
satu metode mengajar. Maka akan menemui kesulitan dalam memberikan bahan
pelajaran kepada siswa. Ini berarti guru tersebut gagal melaksanakan tugasnya
mengajarnya di depan kelas.
- Metode Pembelajaran Diskusi
Diskusi adalah suatu kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah
untuk mengambil kesimpulan. Diskusi tidak sama dengan berdebat. Diskusi selalu
diarahkan kepada pemecahan masalah yang
menimbulkan berbagai macam pendapat dan akhirnya diambil suatu
kesimpulan yang dapat diterima oleh anggota dalam kelompok.
Zuhairini, Memberikan pengertian tentang metode diskusi secara umum
sebagai salah satu metoide interaksi edukatif
diartikan sebagai metode didalam mempelajari bahan atau penyampaian
bahan pelajaran dengan jalan mendiskusikannya sehingga menimbulkan pengertian,
pemahaman, serta perubahan tingkah laku murid seperti yang telah dirumuskan
dalam tujuan instruksionalnya[1]
Dalam dunia pendidikan metode diskusi ini mendapat perhatian karena
dengan diskusi akan merangsang anak-anak untuk berfikir atau mengeluarkan
pendapatnya sendiri. Oleh karena itu metode diskusi bukanlah hanya percakapan
atau debat biasa saja, tapi diskusi timbul karena ada masalah yang memerlukan
jawaban atau pendapat yang bermacam-macam.
- Hasil Belajar
Menurut Sadiman (2005) belajar adalah suatu proses yang
kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia
masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa seseorang
telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan
tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan
(kognitif) dan keterampilan (psikomotorik) maupun yang menyangkut nilai dan
sikap (afektif).
Hudoyo (1990) menyatakan bahwa belajar merupakan kegiatan
bagi setiap orang. Pengetahuan, keterampilan, kegemaran, dan sikap seseorang
terbentuk, dimodifikasi dan berkembang disebabkan belajar. Dengan demikian
dapat diartikan bahwa seseorang dikatakan telah belajar apabila dia telah
mengalami suatu proses kegiatan tertentu sehingga dalam dirinya terjadi suatu
perubahan tingkah laku yang kelihatan atau nampak.
Curson dalam Sahabuddin (2003)
mengemukakan bahwa belajar adalah modifikasi yang tampak dari perilaku
seseorang melalui kegiatan-kegiatan dan pengalaman-pengalamannya, sehingga
pengetahuan, keterampilan dan sikapnya, termasuk penyesuaian cara-caranya,
terhadap lingkungan yang berubah-ubah, yang sedikit banyaknya permanen.
Dari beberapa pendapat para ahli
tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa seseorang dapat dikatakan belajar
apabila dalam diri orang itu telah terjadi perubahan tingkah laku yaitu
penambahan pengetahuan berkat adanya proses kegiatan berupa pengalaman dan
latihan-latihan.
Dari beberapa kutipan di atas,
disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki sebagai
hasil pembelajaran yang diamati melalui penampilan siswa di mana untuk
mengetahui hasil belajar yang dicapai diadakan penilaian, dan salah satu alat
ukur yang digunakan adalah tes. Jadi hasil belajar biologi siswa adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai hasil pembelajaran biologi yang
dapat diamati melalui penampilan siswa dengan menggunakan tes sebagai alat ukur
hasil belajar biologi. .
- Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Dalam Djamarah dan Zain (1996) faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan proses belajar mengajar adalah sebagai berikut:
- Tujuan.
Tujuan merupakan
pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar
mengajar. Kepastian dari perjalanan proses belajar mengajar berpangkal tolak dari jelas tidaknya
perumusan tujuan pengajaran. Tercapainya tujuan sama halnya keberhasilan
pengajaran.
- Guru
Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu
pengetahuan kepada anak didik di sekolah. Guru adalah orang yang berpengalaman
dalam bidang profesinya. Dengan keilmuan yang dimilikinya, dia dapat menjadikan
anak didik menjadi orang yang cerdas.
- Anak didik
Anak didik adalah orang yang dengan sengaja datang ke sekolah. Anak
yang menyenangi pelajaran tertentu dan kurang menyenangi pelajaran yang lain
adalah perilaku anak yang bermula dari sikap mereka karena minat yang
berlainan. Hal ini akan mempengaruhi kegiatan belajar anak.
- Kegiatan pengajaran
Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara
guru dengan anak didik dengan bahan sebagai perantaranya. Guru yang mengajar
dan anak didik yang belajar, maka guru adalah orang yang menciptakan lingkungan
belajar bagi kepentingan belajar anak didik. Gaya mengajar guru berusaha
mempengaruhi gaya belajar anak didik.
- Bahan dan Alat Evaluasi
Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat di dalam kurikulum
yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan. Biasanya bahan
pelajaran itu sudah dikemas dalam bentuk buku paket untuk dikonsumsi oleh anak
didik. Bila tiba masa ulangan, semua bahan yang telah diprogramkan dan harus
selesai dalam jangka waktu tertentu dijadikan sebagai bahan untuk pembuatan
item-item soal evaluasi.
- Suasana Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi biasanya dilkasanakan di dalam kelas. Besar
kecilnya jumlah anak didik yang dikumpulkan di dala kelas akan memepengaruhi
suasana kelas. Sekaligus mempengaruhi suasana evaluasi yang dilaksanakan.
Karena sikap mental anak didik belum semuanya siap untuk berlaku jujur, maka
dihadirkanlah satu atau dua orang pengawas atau guru yang ditugaskan untuk
mengawasinya. Selama pelaksanaan evaluasi, selama itu pula juga seorang
pengawas mengamati semua sikap, gerak gerik yang dilakukan oleh anak didik
Faktor-faktor yang telah dikemukakan di
atas, melibatkan faktor intern dan faktor ekstern. Untuk itu, demi mencapai
suatu tujuan, diperlukan adanya kerja sama yang baik antar komponen-komponen
pendidikan.
- Metode Penelitian
- Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian
Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang meliputi empat tahap
pelaksanaan yaitu: perencanaan, tindakan, observasi/evaluasi dan refleksi.
- Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X MA raudlatul Ulum
Ganjaran tahun ajaran 2015/2016
- Faktor yang diselidiki
Faktor yang diselidiki dalam penelitian
ini adalah:
1. Faktor proses yaitu melihat bagaimana aktivitas siswa
dalam proses belajar mengajar berlangsung.
2.
Faktor hasil
yaitu melihat apakah penerapan metode resitasi dan diskusi dapat meningkatkan
hasil belajar siswa.
I. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data
yang dilakukan dalam penelitian tindakan ini adalah sebagai berikut:
- Data mengenai aktivitas belajar siswa selama proses belajar mengajar di kelas diperoleh dengan menggunakan lembar observasi.
- Data mengenai peningkatan penguasaan materi diambil dari tes siklus II dan I kemudian dibandingkan kedua siklus tersebut.
- Prosedur Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action
Research) diawali dengan refleksi awal yang dilakukan oleh peneliti yang berkolaborasi
dengan partisipan mencari informasi lain untuk mengenali dan mengetahui kondisi
awal atau mencari masalah yang ada pada tempat yang akan dijadikan subyek
penelitian. Secara umum penelitian tindakan kelas memiliki desain dengan empat
langkah utama, yaitu rencana tindakan, pelaksanaan tindakan observasi/evaluasi
dan refleksi
Penelitian ini terdiri dari dua siklus,
pada akhir setiap siklus dilakukan evaluasi hasil belajar. Tiap siklus
berlangsung selama 4 kali pertemuan yaitu 3 kali tatap muka untuk proses
pembelajaran dan 1 kali tes yang dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang
ingin dicapai.
Tabel
1.1. perbandingan pelaksanaan Siklus I dan Siklus II
Siklus I
|
Siklus II
|
Merancang Merancang tindakan siklus I
|
Merancang tindakan siklus II berdasarkan pengalaman
siklus I
|
Melaksanakan tindakan
|
Melaksanakan tindakan perbaikan
|
Memantau tindakan yang dilaksanakan (observasi)
|
Memantau tindakan yang dilaksanakan (observasi)
|
Mengadakan refleksi I
|
Mengadakan refleksi II
|
Selanjutnya diuraikan masing-masing
tindakan pada tahap penelitian sebagi berikut:
a. Tahap
Perencanaan
Adapun kegiatan yang dilakukan
dalam tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut:
- Mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran.
- Merancang soal-soal yang akan digunakan.
- Membuat tabel spesifikasi dan kisi-kisi soal untuk penyusunan tes evaluasi
- Menyusun instrumen berupa tes hasil belajar yang terdiri atas soal-soal berdasarkan indikator yang tertuang dalam rencana pelaksanaan pembelajaran(RPP).
b.
Tahap tindakan
Siklus I dilaksanakan selama tiga kali pertemuan.
Pertemuan 1 sampai 3 dilaksanakan untuk proses belajar mengajar lalu penerapan
metode resitasi tiap pertemuan dan pertemuan ke-4 untuk pelaksanaan tes
dilaksanakan selama 2 x 40 menit.
Tahap ini siswa
diberikan materi. Tiap akhir dari materi ini, siswa diberikan tugas mengenai
materi yang telah diajarkan atau tugas yang memiliki keterkaitan dengan tugas
yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya. Tugas ini kemudian dikerjakan
oleh siswa di luar jam pelajaran. Tugas yang diberikan terlebih dahulu
dijelaskan/diberikan petunjuk yang jelas, agar siswa yang belum mampu memahami
tugas itu berupaya untuk menyelesaikannya. Tempat dan lama waktu penyelesaian tugas harus jelas
Langkah-langkah
pelaksanaan tindakan untuk tiap sub materi pada siklus I sebagai berikut
:
1. Penjelasan tentang tujuan pembelajaran yang akan dicapai
pada sub materi yang diajarkan dan mengabsen siswa.
2. Penjelasan mengenai materi dengan metode ceramah dan
diskusi.
3. Pemberian pertanyaan refleksi mengenai materi yang telah
diajarkan.
4. Penjelasan peneliti mengenai tugas yang akan dikerjakan.
5. Peneliti harus memberikan bimbingan
utamanya kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar atau salah arah dalam
mengerjakan tugas.
6. Laporan siswa baik lisan/ tertulis dari apa yang
dikerjakannya
7. Tanya jawab/diskusi kelas yang berhubungan dengan
tugas diberikan pada siswa
8.
Penilaian hasil pekerjaan siswa baik
dengan tes maunpun non tes
c.
Tahap observasi/evaluasi
Tahap observasi dan evaluasi
selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti dengan dibantu dua orang
bertindak sebagal observer, yaitu dengan mengisi lembar observasi yang memuat
rekaman keaktifan siswa pada pertemuan pertama hingga akhir yang meliputi;
kehadiran siswa, keaktifan siswa dalam mengerjakan soal-soal, menjawab
pertanyaan, mengajukan pertanyaan, dan menanggapi jawaban siswa lain;
kesungguhan siswa mengikuti pelajaran, dan kekompakan yang diperlihatkan setiap
kelompok, kemampuan siswa menjawab soal-soal dengan benar, keberanian
siswa/kelompok mempersentasekan hasil diskusi kelompoknya serta perilaku siswa
yang tidak relevan dengan kegiatan belajar mengajar.
Evaluasi dilakukan setelah proses
belajar mengajar dan observasi siklus I selama dua kali pertemuan, yang berupa
evaluasi proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dengan siswa. Data
dari evaluasi ini digunakan untuk menyusun refleksi dalam rangka persiapan
perencanaan tindakan siklus II.
d.
Refleksi
Hasil yang
diperoleh dari pengamatan observasi dikumpulkan serta dianalisis. Hasil yang
didapatkan peneliti dapat dijadikan sebagai bahan refleksi apakah tindakan yang
dilakukan telah meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah. Hasil
analisis yang diperoleh dalam tahap ini akan dipergunakan sebagai acuan untuk
melaksanakan siklus II sehingga yang dicapai pada siklus berikutnya sesuai
dengan apa yang diharapkan dan hendaknya lebih baik dari siklus sebelumnya
(siklus 1).
Siklus II dilaksanakan berdasarkan
hasil pelaksanaan siklus I Langkah-langkah yang ditempuh kurang lebih sama
dengan siklus I. Inti dari pelaksanaan siklus II adalah memperbaiki
pelaksanaan siklus I.
- Teknik Analisa Data
Data yang diperoleh selanjutnya
dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif kualitatif dan
kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan keaktifan
belajar siswa yang diketahui dari hasil pengamatan aktivitas siswa di kelas,
sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk mendeskripsikan hasil belajar Fiqh
siswa yang diketahui dari hasil penilaian setiap siklus.
Analisis kualitatif dapat dilakukan
dengan menggunakan teknik persentase aktifitas belajar siswa, sedangkan untuk
analisis kuantitatif penyajian datanya dilakukan dalam bentuk tabel distribusi
frekuensi di mana dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok. Menurut
Sudjana (2002) analisis kuantitatif dapat digunakan teknik kategorisasi dengan
berpedoman pada skala angka 0-100 sesuai dengan Tabel 3.1 di bawah ini:
Tabel
1.2. Skala Penilaian Hasil Belajar Siswa
No
|
Interval
Nilai
|
Kualifikasi
|
1
|
80
– 100
|
Sangat Tinggi
|
2
|
66
– 79
|
Tinggi
|
3
|
56
– 65
|
Sedang
|
4
|
40
– 55
|
Rendah
|
5
|
0
– 39
|
Sangat rendah
|
- Instrumen Penelitian
Instrumen yang dipakai dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut.
- Lembar observasi untuk mengukur aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar yang meliputi: Mendengarkan penjelasan peneliti, mencatat/menyalin pelajaran, bertanya, menjawab/menanggapi pertanyaan, meminta bimbingan kepada peneliti, mengumpulkan tugas dan mempresentasikan tugasnya.
- Tes hasil belajar dalam bentuk essay.
- Indikator Keberhasilan
- Kualitas Proses
Indikator keberhasilan penelitian ini dari segi kualitas proses adalah
terjadinya peningkatan persentase atau jumlah siswa yang melakukan setiap
komponen aktivitas yang menjadi bahan pengamatan peneliti dan observer pada
saat proses pembelajaran dengan menggunakan metode resitasi dari siklus I ke
siklus II, yang dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi.
- Hasil Belajar
Indikator dari keberhasilan penelitian ini dari segi hasil belajar adalah bila
dari hasil persentase dan frekuensi hasil tes siswa mengalami peningkatan
jumlah yang nyata dari siklus I ke siklus II.
- Daftar Rujukan
Trianto, M.Pd (2010) ,Mengembangkan
Model Pembelajaran Tematik., - Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya
Zuhairini dan Abdul Ghofir (2004), Metodologi
Pembelajaran , Malang : UM PRESS,
“
Metode Pembelajaran Diskusi”. www.ziazone.wordpress.com/2011/10/05/metode-pembelajaran-diskusi
(Diakses pada 07 april 2015)

0 Komentar untuk "Proposal Penelitian"