Catatan Ide sederhana

Proposal Penelitian



PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
http://omahejawi.blogspot.co.id/2015/07/contoh-daftar-isi-proposal-penelitian.html
Image



”UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR  SISWA DALAM PEMBELAJARAN FIQIH DENGAN METODE RESITASI DAN DISKUSI”

(Penelitian Tindakan Kelas: Kelas X MA Raudhatul Ulum Putra Ganjaran  pada Mata Pelajaran Pendidikan Fiqh)





Oleh

Yusroful Kholili



  1.  Latar Belakang Masalah
Islam merupakan agama yang sempurna. Mencakup semua sisi hidup dan kehidupan dari mulai sisi pribadi sampai pengurusan masyarakat secara luas, dari mulai hubungan manusia dengan tuhannya sampai hubungan manusia dengan manusia dan lingkungan sekitarnya. Sehingga mempelajari ajaran agama ini merupakan sebuah kewajiban individu (fardlu ’ain), yang berkonsekuensi setiap muslim apabila tidak mempelajarinya maka dia dihukumi berdosa.
Secara garis besar syariat islam melingkupi akidah, akhlak, muamalah, ibadah dan sejarah yang semua elemen ini bersumber didalam al-quran dan hadist. Mata pelajaran fiqih adalah salah satu bagian dari Pendidikan Agama Islam yang mempelajari tentang Fiqih ibadah, terutama menyangkut pengenalan dan pemahaman tentang cara-cara pelaksanaan rukun islam mulai dari ketentuan dan tata cara pelaksanaan taharah, shalat, puasa, zakat, sampai dengan pelaksanaan ibadah haji, serta ketentuan tentang makanan dan minuman, khitan, kurban, dan cara pelaksanaan jual beli dan pinjam meminjam, yang pada intinya  bersumber dari al-quran dan hadist.
Secara substansial, mata pelajaran Fiqih memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan dan menerapkan hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari sebagai perwujudan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan diri manusia itu sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya ataupun lingkungannya.
Sebaik apapun tujuan pendidikan, jika tidak didukung oleh metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat tercapai dengan baik. Proses  belajar-mengajar  akan  berjalan  dengan  baik  kalau metode  yang digunakan  betul-betul  tepat,  karena  antara  pendidikan  dengan metode  saling berkaitan. Menurut  Zakiah Daradjat (1959),  pendidikan  adalah  usaha  atau  tindakan untuk membentuk manusia.  Disini guru sangat berperan dalam membimbing anak didik ke arah terbentuknya pribadi yang diinginkan.
Berdasarkan pengalaman penulis, pembelajaran materi Fiqih disekolah membuahkan hasil. Hal ini dapat dilihat dengan sejumlah siswa tidak mengerti tentang  syarat dan ketentuan fiqh dalam masalah muamalah,  dan beberapa praktik yang tidak memenuhi syarat dalam masalah ubudiyah. Hal ini disebabkan karena guru hanya menggunakan metode ceramah dalam proses belajar-mengajar.
Berdasar uraian diatas penulis mencoba menerapkan kolaborasi dua metode pembelajaran, yaitu metode pembelajaran penugasan (resitasi) dan diskusi, untuk mengungkapkan apakah pembelajaran dengan  dua metode ini dapat meningkatkan presatasi belajar Fiqh. Penulis memilih dua metode ini untuk membiasakan siswa untuk aktif dalam belajar baik di sekolah maupun di rumah,memecahkan masalah yang ditemukan, didiskusikan serta untuk dipertanggung jawabkan baik didepan kelas Suryosubroto (1997: 179). Sedangkan guru bertugas untuk mengarahkan dan membimbing siswa.
Dari latar belakang tersebut, maka penulis dalam penelitian ini mengambil judul “ Meningkatkan Hasil belajar Fiqih Dengan Metode Pembelajaran Resitasi dan Diskusi Pada Siswa Kelas X Di MA Raudlatul Ulum Putra Ganjaran Gondanglegi Malang Tahun Pelajaran 2015/2016”
  1. Rumusan Masalah
Berdasar latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah peningkatan Hasil belajar siswa dengan diterapkannya pembelajaran resitasi dan diskusi dalam  mata pelajaran fiqh pada siswa kelas X di MA raudlatul ulum putra ganjaran gondanglegi malang tahun pelajaran 2015/2016 ?
  1. Tujuan penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan Hasil belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran resitasi dan diskusi dalam mata pelajaran fiqh pada siswa kelas X di MA raudlatul ulum putra ganjaran gondanglegi malang tahun pelajaran 2015/2016
  1. Manfaat Penelitian
Dengan penelitian ini, penulis berharap hasilnya bermanfaat bagi:
1.      Penulis, memberikan pengetahuan tambahan dalam penerapan metode Resitasi dan Diskusi
2.      Guru, memberikan informasi tentang metode yang sesuai denagn materi Fiqh
3.      Siswa, meningkatkan Hasil belajar siswa dalam materi pelajaran Fiqh
4.      Sekolah, memberikan masukan bagi sekolah sebagai pedoman untuk mengambil kebijakan disekolah tersebut, khususnya dalam pembelajaran Fiqh
  1. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini yaitu, penerapan pembelajaranm resitasi dan diskusi dapat meningkatkan  Hasil belajar siswa dalam mata pelajaran fiqh pada siswa kelas X di MA raudlatul ulum putra ganjaran gondanglegi malang tahun pelajaran 2015/2016
  1. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah masalah peningkatan Hasil belajar
2.      Objek sasaran penelitian ini adalah siswa kelas X MA RU Pa
3.      Pelaksanaan penelitian tindakan kelas inio dilaksanakan di Ma Raudalatul Ulum Pa Desa ganjaran Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang
4.      Dalam penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2015/.2106
5.      Penelitian tindakan kelas ini dibatasi pada kompetensi dasar memahami aturan islam dalam kepemilikan.
  1. Kajian Pustaka
  1. Metode Pembelajaran Penugasan (Resitasi)
Pemberian tugas adalah metode yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk guru secara langsung. Dengan metode ini siswa dapat mengenali fungsinya secara nyata. Tugas dapat diberikan kepada kelompok atau perorangan.
Metode pemberian tugas sebagai salah satu metode yang dikaji penulis dalam pembahasan ini tentunya juga memiliki kelemahan dan kelebihan seperti halnya dengan metode yang lain. Mengenai kelemahan dan kelebihan metode pemberian tugas adalah sebagai berikut :
1.      Kelebihan metode pemberian tugas :
a)      Baik sekali untuk mengisi waktu luang dengan hal-hal yang konstruktif.
b)      Memupuk rasa tanggung jawab dalam segala tugas pekerjaan, sebab dalam metode ini anak harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu (tugas) yang telah dikerjakan.
c)      Memberi kebiasaan anak untuk belajar.
d)     Memberi tugas anak yang bersifat praktis (H. Zuhairini, 1977).

2.      Dari berbagai kelebihan-kelebihan yang telah dipaparkan di atas tentunya metode pemberian tugas juga tidak terlepas dari kelemahan-kelemahan sebagai berikut :

a)      Seringkali tugas di rumah itu dikerjakan oleh orang lain, sehingga anak tidak tahu menahu tentang pekerjaan itu, berarti tujuan pengajaran tidak tercapai.
b)      Sulit untuk memberikan tugas karena perbedaan individual anak dalam kemampuan dan minat belajar.
c)      Seringkali anak-anak tidak mengerjakan tugas dengan baik, cukup hanya menyalin pekerjaan temannya.
d)     Apabila tugas itu terlalu banyak, akan mengganggu keseimbangan mental anak (H. Zuhairini, 1977).
Dengan memahami kelebihan dan kelemahan metode pemikiran tugas di atas, tentunya akan menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar yang dilakukan. Sebaliknya manakala guru tidak mengetahui kelebihan dan kekurangan satu metode mengajar. Maka akan menemui kesulitan dalam memberikan bahan pelajaran kepada siswa. Ini berarti guru tersebut gagal melaksanakan tugasnya mengajarnya di depan kelas.
  1. Metode Pembelajaran Diskusi
Diskusi adalah suatu kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah untuk mengambil kesimpulan. Diskusi tidak sama dengan berdebat. Diskusi selalu diarahkan kepada pemecahan masalah yang  menimbulkan berbagai macam pendapat dan akhirnya diambil suatu kesimpulan yang dapat diterima oleh anggota dalam kelompok.
Zuhairini, Memberikan pengertian tentang metode diskusi secara umum sebagai salah satu metoide interaksi edukatif  diartikan sebagai metode didalam mempelajari bahan atau penyampaian bahan pelajaran dengan jalan mendiskusikannya sehingga menimbulkan pengertian, pemahaman, serta perubahan tingkah laku murid seperti yang telah dirumuskan dalam tujuan instruksionalnya[1]
Dalam dunia pendidikan metode diskusi ini mendapat perhatian karena dengan diskusi akan merangsang anak-anak untuk berfikir atau mengeluarkan pendapatnya sendiri. Oleh karena itu metode diskusi bukanlah hanya percakapan atau debat biasa saja, tapi diskusi timbul karena ada masalah yang memerlukan jawaban atau pendapat yang bermacam-macam.
  1.  Hasil Belajar
Menurut Sadiman (2005) belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotorik) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).
Hudoyo (1990) menyatakan bahwa belajar merupakan kegiatan bagi setiap orang. Pengetahuan, keterampilan, kegemaran, dan sikap seseorang terbentuk, dimodifikasi dan berkembang disebabkan belajar. Dengan demikian dapat diartikan bahwa seseorang dikatakan telah belajar apabila dia telah mengalami suatu proses kegiatan tertentu sehingga dalam dirinya terjadi suatu perubahan tingkah laku yang kelihatan atau nampak.
Curson dalam Sahabuddin (2003) mengemukakan bahwa belajar adalah modifikasi yang tampak dari perilaku seseorang melalui kegiatan-kegiatan dan pengalaman-pengalamannya, sehingga pengetahuan, keterampilan dan sikapnya, termasuk penyesuaian cara-caranya, terhadap lingkungan yang berubah-ubah, yang sedikit banyaknya permanen.
Dari beberapa pendapat para ahli tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa seseorang dapat dikatakan belajar apabila dalam diri orang itu telah terjadi perubahan tingkah laku yaitu penambahan pengetahuan berkat adanya proses kegiatan berupa pengalaman dan latihan-latihan.
Dari beberapa kutipan di atas, disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki sebagai hasil pembelajaran yang diamati melalui penampilan siswa di mana untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai diadakan penilaian, dan salah satu alat ukur yang digunakan adalah tes. Jadi hasil belajar biologi siswa adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai hasil pembelajaran biologi yang dapat diamati melalui penampilan siswa dengan menggunakan tes sebagai alat ukur hasil belajar biologi. .
  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Dalam Djamarah dan Zain (1996) faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses belajar mengajar adalah sebagai berikut:
  1. Tujuan.
      Tujuan merupakan pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Kepastian dari perjalanan proses belajar mengajar  berpangkal tolak dari jelas tidaknya perumusan tujuan pengajaran. Tercapainya tujuan sama halnya keberhasilan pengajaran.
  1. Guru
Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah. Guru adalah orang yang berpengalaman dalam bidang profesinya. Dengan keilmuan yang dimilikinya, dia dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang cerdas.
  1. Anak didik
Anak didik adalah orang yang dengan sengaja datang ke sekolah. Anak yang menyenangi pelajaran tertentu dan kurang menyenangi pelajaran yang lain adalah perilaku anak yang bermula dari sikap mereka karena minat yang berlainan. Hal ini akan mempengaruhi kegiatan belajar anak.
  1. Kegiatan pengajaran
Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak didik dengan bahan sebagai perantaranya. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar, maka guru adalah orang yang menciptakan lingkungan belajar bagi kepentingan belajar anak didik. Gaya mengajar guru berusaha mempengaruhi gaya belajar anak didik.
  1. Bahan dan Alat Evaluasi
Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat di dalam kurikulum yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan. Biasanya bahan pelajaran itu sudah dikemas dalam bentuk buku paket untuk dikonsumsi oleh anak didik. Bila tiba masa ulangan, semua bahan yang telah diprogramkan dan harus selesai dalam jangka waktu tertentu dijadikan sebagai bahan untuk pembuatan item-item  soal evaluasi.
  1. Suasana Evaluasi 
Pelaksanaan evaluasi biasanya dilkasanakan di dalam kelas. Besar kecilnya jumlah anak didik yang dikumpulkan di dala kelas akan memepengaruhi suasana kelas. Sekaligus mempengaruhi suasana evaluasi yang dilaksanakan. Karena sikap mental anak didik belum semuanya siap untuk berlaku jujur, maka dihadirkanlah satu atau dua orang pengawas atau guru yang ditugaskan untuk mengawasinya. Selama pelaksanaan evaluasi, selama itu pula juga seorang pengawas mengamati semua sikap, gerak gerik yang dilakukan oleh anak didik
Faktor-faktor yang telah dikemukakan di atas, melibatkan faktor intern dan faktor ekstern. Untuk itu, demi mencapai suatu tujuan, diperlukan adanya kerja sama yang baik antar komponen-komponen pendidikan.

  1. Metode Penelitian
  1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang meliputi empat tahap pelaksanaan yaitu: perencanaan, tindakan, observasi/evaluasi dan refleksi.

  1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X MA raudlatul Ulum Ganjaran tahun ajaran 2015/2016
  1. Faktor yang diselidiki

Faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah:
1. Faktor proses yaitu melihat bagaimana aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar berlangsung.
2. Faktor hasil yaitu melihat apakah penerapan metode resitasi dan diskusi dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
I. Teknik Pengumpulan Data

 Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian tindakan ini adalah sebagai berikut:
  1. Data mengenai aktivitas belajar siswa selama proses belajar mengajar di kelas diperoleh dengan menggunakan lembar observasi.
  2. Data mengenai peningkatan penguasaan materi diambil dari tes siklus II dan I kemudian dibandingkan kedua siklus tersebut.

  1. Prosedur Penelitian
 Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) diawali dengan refleksi awal yang dilakukan oleh peneliti yang berkolaborasi dengan partisipan mencari informasi lain untuk mengenali dan mengetahui kondisi awal atau mencari masalah yang ada pada tempat yang akan dijadikan subyek penelitian. Secara umum penelitian tindakan kelas memiliki desain dengan empat langkah utama, yaitu rencana tindakan, pelaksanaan tindakan observasi/evaluasi dan refleksi
Penelitian ini terdiri dari dua siklus, pada akhir setiap siklus dilakukan evaluasi hasil belajar. Tiap siklus berlangsung selama 4 kali pertemuan yaitu 3 kali tatap muka untuk proses pembelajaran dan 1 kali tes yang dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai.
Tabel 1.1. perbandingan pelaksanaan Siklus I dan Siklus II
Siklus I
Siklus II
Merancang  Merancang tindakan siklus I
Merancang tindakan siklus II berdasarkan pengalaman siklus I
Melaksanakan tindakan
Melaksanakan tindakan perbaikan
Memantau tindakan yang dilaksanakan (observasi)
Memantau tindakan yang dilaksanakan (observasi)
Mengadakan refleksi I
Mengadakan refleksi II
Selanjutnya diuraikan masing-masing tindakan pada tahap penelitian sebagi berikut:
a.        Tahap Perencanaan
 Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut:
  1. Mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran.
  2. Merancang soal-soal yang akan digunakan.
  3. Membuat tabel spesifikasi dan kisi-kisi soal untuk penyusunan tes evaluasi
  4. Menyusun instrumen berupa tes hasil belajar yang terdiri atas soal-soal berdasarkan indikator yang tertuang dalam rencana pelaksanaan pembelajaran(RPP).
b.       Tahap tindakan

Siklus I dilaksanakan selama tiga kali pertemuan. Pertemuan 1 sampai 3 dilaksanakan untuk proses belajar mengajar lalu penerapan metode resitasi tiap pertemuan dan pertemuan ke-4 untuk pelaksanaan tes dilaksanakan selama 2 x 40 menit.
Tahap ini siswa diberikan materi. Tiap akhir dari materi ini, siswa diberikan tugas mengenai materi yang telah diajarkan atau tugas yang memiliki keterkaitan dengan tugas yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya. Tugas ini kemudian dikerjakan oleh siswa di luar jam pelajaran. Tugas yang diberikan terlebih dahulu dijelaskan/diberikan petunjuk yang jelas, agar siswa yang belum mampu memahami tugas itu berupaya untuk menyelesaikannya. Tempat dan lama waktu penyelesaian tugas harus jelas
 Langkah-langkah pelaksanaan tindakan untuk tiap sub materi pada siklus I sebagai berikut  :
1.      Penjelasan tentang tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada sub materi yang diajarkan dan mengabsen siswa.
2.      Penjelasan mengenai materi dengan metode ceramah dan diskusi.
3.      Pemberian pertanyaan refleksi mengenai materi yang telah diajarkan.
4.      Penjelasan peneliti mengenai tugas yang akan dikerjakan.
5.      Peneliti harus memberikan bimbingan utamanya kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar atau salah arah dalam mengerjakan tugas.
6.      Laporan siswa baik lisan/ tertulis dari apa yang dikerjakannya
7.      Tanya jawab/diskusi kelas yang berhubungan dengan tugas diberikan pada siswa
8.      Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maunpun non tes


c.       Tahap observasi/evaluasi

 Tahap observasi dan evaluasi selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti dengan dibantu dua orang bertindak sebagal observer, yaitu dengan mengisi lembar observasi yang memuat rekaman keaktifan siswa pada pertemuan pertama hingga akhir yang meliputi; kehadiran siswa, keaktifan siswa dalam mengerjakan soal-soal, menjawab pertanyaan, mengajukan pertanyaan, dan menanggapi jawaban siswa lain; kesungguhan siswa mengikuti pelajaran, dan kekompakan yang diperlihatkan setiap kelompok, kemampuan siswa menjawab soal-soal dengan benar, keberanian siswa/kelompok mempersentasekan hasil diskusi kelompoknya serta perilaku siswa yang tidak relevan dengan kegiatan belajar mengajar.
Evaluasi dilakukan setelah proses belajar mengajar dan observasi siklus I selama dua kali pertemuan, yang berupa evaluasi proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dengan siswa. Data dari evaluasi ini digunakan untuk menyusun refleksi dalam rangka persiapan perencanaan tindakan siklus II.

d.       Refleksi

Hasil yang diperoleh dari pengamatan observasi dikumpulkan serta dianalisis. Hasil yang didapatkan peneliti dapat dijadikan sebagai bahan refleksi apakah tindakan yang dilakukan telah meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah. Hasil analisis yang diperoleh dalam tahap ini akan dipergunakan sebagai acuan untuk melaksanakan siklus II sehingga yang dicapai pada siklus berikutnya sesuai dengan apa yang diharapkan dan hendaknya lebih baik dari siklus sebelumnya (siklus 1).
Siklus II dilaksanakan berdasarkan hasil pelaksanaan siklus I Langkah-langkah yang ditempuh kurang lebih sama dengan siklus I.  Inti dari pelaksanaan siklus II adalah memperbaiki pelaksanaan siklus I.
  1. Teknik Analisa Data
 Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan keaktifan belajar siswa yang diketahui dari hasil pengamatan aktivitas siswa di kelas, sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk mendeskripsikan hasil belajar Fiqh siswa yang diketahui dari hasil penilaian setiap siklus.
Analisis kualitatif dapat dilakukan dengan menggunakan teknik persentase aktifitas belajar siswa, sedangkan untuk analisis kuantitatif penyajian datanya dilakukan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi di mana dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok. Menurut Sudjana (2002) analisis kuantitatif dapat digunakan teknik kategorisasi dengan berpedoman pada skala angka 0-100 sesuai dengan Tabel 3.1 di bawah ini:
Tabel 1.2. Skala Penilaian Hasil Belajar Siswa
No
Interval Nilai
Kualifikasi
1
80 – 100
Sangat Tinggi
2
66 – 79
Tinggi
3
56 – 65
Sedang
4
40 – 55
Rendah
5
0 – 39
Sangat rendah

  1.  Instrumen Penelitian

 Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
  1. Lembar observasi untuk mengukur aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar yang meliputi: Mendengarkan penjelasan peneliti, mencatat/menyalin pelajaran, bertanya, menjawab/menanggapi pertanyaan, meminta bimbingan kepada peneliti, mengumpulkan tugas dan mempresentasikan tugasnya.
  2. Tes hasil belajar dalam bentuk essay.

  1. Indikator Keberhasilan

  1.  Kualitas Proses
           Indikator keberhasilan penelitian ini dari segi kualitas proses adalah terjadinya peningkatan persentase atau jumlah siswa yang melakukan setiap komponen aktivitas yang menjadi bahan pengamatan peneliti dan observer pada saat proses pembelajaran dengan menggunakan metode resitasi dari siklus I ke siklus II, yang dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi.

  1.  Hasil Belajar 
           Indikator dari keberhasilan penelitian ini dari segi hasil belajar adalah bila dari hasil persentase dan frekuensi hasil tes siswa mengalami peningkatan jumlah yang nyata dari siklus I ke siklus II. 
  1. Daftar Rujukan
Trianto, M.Pd (2010) ,Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik., - Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya
Zuhairini dan Abdul Ghofir (2004), Metodologi Pembelajaran , Malang : UM PRESS,
“ Metode Pembelajaran Diskusi”. www.ziazone.wordpress.com/2011/10/05/metode-pembelajaran-diskusi (Diakses pada 07 april 2015)






[1]  Zuhairini dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran (Malang: UM PRESS, 2004), hlm.64
Tag : Lain-Lain, Tugas
0 Komentar untuk "Proposal Penelitian"

Back To Top