Pelaksanaan
Praktikan telah selesai di jalani di MA Raudlatul Ulum Ganjaran Gondanglegi
Malang. Banyak pengalaman menarik yang saya temui selama Praktik di Sekolah
Basis Pesantren Tersebut. Memang, pendiri awal sekolah ini adalah para Kyai
Pesantren seperti KH. Bukhori Isma’il, KH. Yahya Syabrowi, dll. Tradisi belajar
ala Pesantren, seperti Bandongan dan Sorogan, masih di
pertahankan sampai kini.
Sebagai
informasi, siswa MA Raudlatul Ulum berasal dari berbagai daerah. Diantaranya Malang,
Surabaya, Madura, Pontianak dll. Bahkan Pontianak, daerah terjauh di banding
daerah asal lain, menjadi daerah terbanyak penyuplai siswa di sekolah ini.
Dengan asal daerah yang beda, bahasa sehari-hari siswa beragam pula. Ada
Madura, jawa, dan melayu. Meskipun bahasa paling belakang disebutkan paling
jarang terdengar. Ya, satu lagi bahasa yang sering didengar, biasanya kita
sebut saja dengan bahasa jawa sasak an. Bahasa ini sangat akrab dengan
siswa karena satu-satunya bahasa yang digunakan saat memaknai kitab kuning. Bahasa ini difaham,
namun dari asalnya bahasa ini asalnya,
saya yakin tidak sedikit dari siswa MA RU yang tidak tahu, yang berasal dari
suku jawa sekalipun. Termasuk penulis sendiri.
Nah,
terkait dengan masalah bahasa,
pengalaman ‘menarik’ penulis temui saat pelakasanaan Praktikan di MA RU.
Jika disusun, kira-kira ceritanya begini:
“
Suatu kali ,saya masuk kelas X
(identitas khususnya tidak perlu disebutkan disini) yang tidak ada gurunya .
saya nyelonong masuk,
tahu-tahu ketepatan waktunya jam pelajaran
bahasa inggris. “Wah, saya jurusan PAI, orang madura lagi. bagaimana mungkin
‘menggurui’ pelajaran bahasa inggris” pikirku sesaat. Tapi saya terlanjur
memperlihatkan muka, lengkap dengan atribut Mahasiswa Praktikan. Apa boleh
buat, saya harus mengisi. Tidak bisa tidak.
Secepat
kilat, saya paksa otak searching jalan , tidak lama kemudian permainan
yang saya sebut dengan‘ kereta kata’ muncul sebagai jalan alternatifnya. Paling
tidak bisa mengisi sampai bel pergantian jam. Pembelajaran dengan
menggunakan aturan main Kereta-kata, saya tawarkan. Meskipun
ujung-ujungnya tidak bisa ditawar-tawar.
Saya aturkan peraturan mainnya. Di depan mereka saya jelaskan “ saya akan
menunjuk seseorang untuk menyebutkan satu kata, kemudian saya akan menunjuk peserta
yang lain untuk menyebutkan kata yang huruf awalnya merupakan huruf akhir dari
kata yang disebutkan oleh peserta yang saya tunjuk sebelumnya. misalnya :
peserta yang ditunjuk pertama menyebutkan kata “aku”, peserta kedua akan meneruskan
dengan menyebut kata “Ujian”, peserta ketiga meneruskan dengan “ Nasi”, dan begitu
pun selanjutnya sampai masing-masing peserta menyebutkan kata lanjutannya. Dari
kata “ aku” diteruskan menjadi “ujian”, dari “ujian” dilanjutkan menjadi “ Nasi” , dan
seterusnya”. Tidak ketinggalan, sangsi ambil bagian untuk siswa yang tidak
dapat melanjutkan kata. Semua faham dan
sepakat.
Untuk
percobaan, permainan kata bahasa Indonesia pun dimulai. Permainan berjalan lancar,
tidak satupun peserta yang kesulitan untuk meneruskan kata-kata peserta sebelumnya.
Selanjutnya permainan dilanjutkan dengan kosakata bahasa inggris. Misal kata
“say” menjadi “you” kemudian “uncle” dan seterusnya. Di awal-awal sesi,
permainan berjalan agak lambat. Setiap peserta yang ditunjuk, terlihat ada jeda
berpikir huruf akhir peserta sebelumnya (misal, Huruf “i” ataukah “e” akhir dari
kata “see” itu?), sebagai penentu kata selanjutnya yang akan disebutkan. Sekitar 30 menit “kereta kata” bahasa inggris berputar
dengan lancar. Bahkan peserta antusias sekali melanjutkan deretan kosakatanya.
Harapan permainan untuk segera terputus tidak nampak. Terkejut dan senang terpancar
dari air muka peserta saat aku menunjuknya untuk melanjutkan “kata” sebagai deret
gerbong kereta selanjutnya. Asyik.
Permainan
kata sudah berjalan di putaran ketiga. Namun, tidak satupun hukuman ambil
bagian—lantaran kata demi kata dilanjutkan dengan baik. Saya pun berfikir untuk
mengubah kosakata permainan. Dari bahasa inggris ke bahasa lokal. Melihat
daerah asal peserta didik berbeda, ada dua bahasa daerah yang mereka
kuasai. Mereka yang berbahasa madura faham dengan bahasa jawa, yang berbahasa
jawa faham dengan bahasa madura, meskipun sebatas pendengaran. Dalam berucap,
hanya sebagian kecil yang sudah menguasai. Dengan itu, Bahasa Jawa dan Bahasa Madura
sekaligus, menjadi bahasa permainan yang saya pilih. Aturan main lebih dikendorkan,
yang biasa berbahasa Madura menyebutkan kata lanjutan dengan kosakata Madura,
begitupula bagi yang berbahasa jawa.
Aturan
saya utarakan. Sebagian siswa masih belum
yakin, akan keseriusan saya untuk
melakukan permainan itu. Komentar “ malu pak ” terlontar dari salah satu siswa,
kemudian bersambut gelak tawa meng-iyakan dari
yang lain—kebanyakan suara tawa ini bermuasal dari siswa yang duduk di
kursi belakang. Sebagian lain—sebagian besar dari mereka duduk di kursi depan,
mejanya berdekatan dengan meja guru— hanya memilih diam. Saya jelaskan bahwa permainan
terakhir ini diniati untuk menghormati Bahasa warisan nenek moyang.
Karena itu, tidak ada sangsi bagi yang gagal melanjutkan dengan bahasa daerah
masing-masing. “Pola permainan terakhir ini juga bertujuan untuk mengasah
kosakata bahasa daerah ”, saya meyakinkan mereka. Dan mereka sepakat.
Saya
mulai permainan dengan menyebutkan kata “ tak olle agejek” sebagai kata
permulaan, kemudian dilanjutkan oleh siswa yang ditunjuk. Lanjutan kata yang
munculpun bervariasi, kadang berbahasa madura, kadang bahasa jawa, tergantung
bahasa asal peserta yang ditunjuk. Kadang kata “ agejek” bersambut kata
“ konco”, lalu berlanjut dengan kata “ ongguen” dan seterusnya. Jangan
dibayangkan lanjutan kata keluar dengan mulus. Lanjutan kata akan muncul
setelah menunggu kejelasan huruf akhir kata sebelumnya. Setelah jelas huruf
akhirnya, permainan masih harus mandek di lampu merah selanjutnya, siswa yang
tertunjuk mengernyutkan dahi, cerminan otaknya berputar-putar mencari kata yang
berasal dari huruf akhir kata yang baru saja di sebut. Sayapun harus sabar
menunggu kata yang akan diucapkan, lebih sabar dibanding menuggu lanjutan kata di permainan sebelumnya. Permainan Kosakata
bahasa Indonesia bahkan bahasa inggris
sekalipun.
Permainan
kata berjalan terseot-seot. Tambah lama, lanjutan kata muncul tambah
alot. Hanya saat bel pergantian jam berbunyi, permainan saya akhiri. Kealotan,
ikut terhenti. Saya beranjak keluar kelas. Rekaman permainan yang baru saja di
akhiri masih berputar di otak. “kenapa bahasa sendiri lebih sulit pencarian kosakatanya di banding
dengan bahasa Indonesia bahkan bahasa inggris. Aneh!” pikirku sambil terus
meyeret kaki menuju kantor madrasah. masuk kantor pikiran lebih tertarik pada
secangkir kopi. Sedang rekaman permainan kata di kelas, perlahan musnah bersama
asap rokok yang aku kepulkan.
Di
lain waktu, saya berkesempatan masuk kelas lain untuk mengisi mapel bahasa
inggris. Permainan di atas aku mainkan kembali. Sama persis. Jalannya dan
antusiasnya. Hanya saja saat aku utarakan untuk berpindah ke bahasa daerah,
lontaran kata ‘malu’ dan kurang ‘seru’ menanggapi ajakan saya. Hawatir
kejadian—menunggu dan alot jalannya—serupa di kelas sebelumnya terulang. Aku
turuti permainan kata bahasa daerah
tidak terjadi.
Dari
pengalaman itu, aku mulai bertanya pada pikiran sendiri “ apakah mereka mulai malu untuk menggunakan
bahasa sendiri dalam forum formal? Atau,
minimnya pengetahuan kosakata dan gramatikal bahasa daerah mereka alami”. “ Aneh!” bisikku pada angin. Pikirku mulai berjejal untuk menghakimi ke mereka. Sebelum penghakiman semakin mendalam kearah mereka, kubanting setir untuk menghakimi diri sendiri. Sesaat, khayalanku berputar dalam ingatanku tentang perkenalanku dengan bahasa “.
minimnya pengetahuan kosakata dan gramatikal bahasa daerah mereka alami”. “ Aneh!” bisikku pada angin. Pikirku mulai berjejal untuk menghakimi ke mereka. Sebelum penghakiman semakin mendalam kearah mereka, kubanting setir untuk menghakimi diri sendiri. Sesaat, khayalanku berputar dalam ingatanku tentang perkenalanku dengan bahasa “.
Seingatku,
bahasa Madura merupakan satu-satunya
bahasa yang aku dengar sejak di lingkungan keluarga. Lebih dari itu,
Bahasa Madura merupakan bahasa sehari-hari bapak dan ibu. Selanjutnya saat bersama dengan teman sebaya,
tetangga dan keluarga di perantauan, bahasa jawa juga mulai akrab terdengar .
Meskipun di masa ini bahasa Madura masih menempati peringkat satu. Di saat
memasuki dunia sekolah dasar kedudukan bahasa Madura dan jawa berimbang. Bahasa
Indonesia, masih asing sama sekali.
Baru saat masuk bangku Madrasah Ibtidaiyah
(MI) saya mulai bertemu dan berkenalan dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia berangsur akrab di telinga
sebatas di dalam kelas saja. 6 tahun di sekolah dasar Bahasa Indonesia mulai
sering diperdengarkan baik oleh guru atau TV.
Kini
bahasa Indonesia telah akrab di dengar sehari-hari, bahkan berposisi sebagai
bahasa utama saat berkomunikasi.
Gramatikal-nya telah dipelajari—dari MI
sampai bangku kuliah—sampai titik
penyempurnaan, meskipun tidak sempurna betul. Posisinya sebagai bahasa utama di
media sosial dan media lain, setidak-tidaknya telah nyenggol bahasa Madura dan jawa sebagai bahasa ibu.
Khususnya bagi penulis.
Saat-saat
akhir belajar di MI, bahasa inggris datang sebagai bahasa asing kedua dalam hidupku. Di MI, saya tidak punya waktu panjang untuk mengenal
lebih bahasa asing ini. Baru saat duduk di bangku SMP ( Sekolah Menengah
Pertama) kesempatan untuk mengenal bahasa ingris mulai saya dapatkan. Cara
bacanya, gramatikalnya memang salah satu pelajaran wajib di SMP. Bahkan kategori pelajaran yang di ujikan di UN
(ujian Nasional). Saya harus
mempelajari. Mau tidak mau.
Saat
SMP, Gramatikal bahasa jawa lengkap dengan aksaranya baru saya dapati. Pembelajaran
bahasa sendiri (jawa), dan bahasa asing (inggris) sama-sama baru dapat saya pelajari
di bangku yang sama. Ironi bukan? Hebatnya lagi, pembelajaran bahasa ibu
berada di muatan lokal, dan bahasa
inggris berposisi sebagai pelajaran utama, bahkan penentu kelulusan. Saat mengingat
hal ini, pikiran” aneh bukan?” mengusikku.
Bahasa
Inggris juga aku dekati bagian-bagiannya. Kosakatanya, sedikit-banyak bisa
penulis raba-raba untuk dibaca dan diterjemah. Meskipun untuk mengucap dan mendengar masih sulit. Meskipun begitu, setidaknya
bentuk-bentuk regular-irregular verb-nya masih mudah di kenali dibanding
saat berhadapan dengan aksara jawa.
Sedang bahasa jawa sendiri, hanya sebatas di gunakan saat
komunikasi dengan teman sebaya, itupun dengan bahasa ngoko. Kromo Alus,
Kromo inggil, bahkan tembung lingga dan andhahan sudah lenyap
dalam ingatan. Jangankan untuk memahami aksaranya, ater-aternya dan kaidah-kaidahnya.
Istilah-istilah gramatikalnya saja betul-betul tidak faham. Meskipun pernah
kenal, mungkin hanya sebatas istilah
untuk hafalan semata. Tulodhonya,tembang-tembangnya sastranya sulit di
temui dibangku sekolah. Lain halnya dengan bahasa Madura yang hanya ambil bagian untuk dipakai untuk
komunikasi lisan sehari-hari. Lain tidak.
Inilah yang dialami penulis. Mungkin, juga dialami pelajar di sekitar kita. Jika
demikian adanya, tidak dapat kita sangkal bahwa yang asing (bahasa inggris)
makin dekat, bahasa pribumi—warisan nenek moyang semisal bahasa jawa,Madura,
melayu, dan lainnya—makin asing. Lantas, bahasa manakah yang lebih asing?
Penuturan di atas
sebagai bahan refleksi atas pengalaman
pribadi. bukan hendak mengurangi ghiroh membekali diri dan memahami
bahasa Inggris. Apalagi bahasa Indonesia, sama sekali tidak.
Tag :
Refleksi

0 Komentar untuk "Catatan PPL: Asing Mana?"