Catatan Ide sederhana

Kerja Kunjungan Kelompok

Catatan Kunjungan

Satu minggu tak terasa begitu saja berlalu. Hiruk pikuk agenda kerja di basecamp mulai berkurang satu persatu. Masing masing dari kita nampak terjangkit rindu. Rindu sanak bagi yg telah berkeluarga. Yang lain, teman sebaya menjadi biang rindu. Tak hanya itu, obrolan seriuspun mulai kendur-lesu. Di saat begini, sudah tak berguna menjalani agenda kerja. Ada yang lebih nyata untuk didahulukan. Pelampiasan. Kami telah menyepakati tidak ada agenda di malam ini. Malam spesial bagi muslim, khususnya yg telah berkeluarga. Malam Jum'at.

Posko sepi. Aku termenung dengan lalu lalang suara ribut nyamuk dan lalat. Sesaat Ingatanku kembali pada kenangan saat saya fawaid, yusqi dan teman yg lain. Dengan mereka saya bisa tertawa lepas. Dengan mereka kita kelilingi secangkir--bisa teh, kopi hitam atau kopi bening'-- bersama kepulan asap cigaret. Tidak ada yang berebut, apalagi ribut-ribut. Lama sudah tak kita lalui yang demikian. Dengan cepat kuketik sejumlah suku kata dilayar hp. Hasilnya, fawaid datang menghampiri. 

Tak perlu menunggu lama sepeda dipacu ke arah barat dari tempatku, Desa Putukrejo. Sampai di Balai Desa Sumberjaya, kita banting setir kekiri. Sekitar jarak 200 meter setir kembali ganti ke arah kanan. Tepat dirumah besar kediaman kelompokk kkn fawaid. Tepat saat rintik air perlahan turun, sepeda telah terparkir.

Di tempat ini saya mulai menemukan waktu untuk tersenyum lebar. Tanya jawab seputar keadaan desa kadang kali terputus-putus oleh gelak tawa dan suara seruputan kopi. Bahkan, gojlokan karib penghuni asli mendongkrak tawa kami makin meninggi. " Kelap. Hebatkan, saya?" Jadi jargon andalan kemenangan.  Jika sudah gelagapan dengan dentuman gojlok-menggojlok, ku pakai jargon tadi untuk pelarian. Kadang, aku hanya balas dengan kata ' Hach!' Dengan alis mengernyit. Tak disangka  malam telah sampai di pertengahan. Sedang kita terus menemui tanda koma. Koma, koma dan koma.Hanya sampai jam keberapa kita sama-sama tak menyadari serangkaian pembicaraan telah berhenti di titik. Tertidur pulas.

Ke esokannya,  saya dan fawaid meneruskan rute sepeda untuk berpacu. Tepat di Balai desa Sukorejo kita menghentikan laju sepeda. Turun, lalu sepeda diparkir. Berjejer padi disambi kiri tempat parkir menyambut kedatangan kita. Terhampar mengotak seluas pandangan mata. Sangat pas untuk berselfi di sini, semuanya hijau alami. Ya, disinilah Yusqi, Aswad, dan Mustafid ber-KKN.

Puas menikmati pemandangan, kita lanjutkan diskusi kecil-kecilan di pendopo balai yang tak lalah memukau. Bersih nan rapi. Serangkaian jabat menjabat, tutur tak beratur menjdi serangkaian pelepas rindu  pertama. Semua selesai terlaksana. Sedangkan rindu, menemui penawarnya.

Tak ingin membuang-buang waktu, pertanyaan tentang keadaan desa ku sodorkan. Yusqi tampil sebagai presentator pertama. Data desa, masalah yang dihadapi warga beserta solusinya tergambar pada pohon masalah yang dia lukiskan. Selesai, giliran fawaid dengan rela memberikan bocoran permasalahan desa yang dia tinggali selama KKN. Seputung rokoknya tak henti hentinya mengepulkan asap dan kami asik menyimak. Tanpa dikomando masing-masing  dari kami berbagi pengalaman selama turun lapangan dan manis-getir serawung dengan warga sekitar.

Obrolan lain seputar pengalaman hidup di tempat KKN juga tak ketinggalan. Mulai dari urusan nasi sampai akomodasi.  Bahkan persoalan tetek-bengek juga tak enggan keluar begitu saja. Obrolan mulai tak terkendali, ngalor-ngidur bicara kejadian unik dan fenomenal juga ambil posisi. Rebutan jatah masuk jeding, pengembangan kerajinan badan--juga tangan-- mulai dari tidur-tiduran sampai tidur beneran, juga tak kalah asik bersahut.  Lalu, sengar-sengir. Sungguh momen yang tak bisa di sia siakan. Menyenangkan.

Tak terasa, satu bungkus rokok Dji Sam Soe milik fawaid raib terhisap. Murattal al quran terdengar dari corong masjid al Azhar--yang berada di jarak 300 meter sebelah utara kami berdiskusi. Tanda Sholat jum'at akan segera di lakasanakan. Forum kami pun bubar tanpa penutupan, bahkan tanpa salam. Pesertanya pun beragam. Ada yang langsung kekamar mandi,menuju masjid, bahkan ada yang menyempatkan untuk selfie sejenak.

Tak mengapalah. Diskusi sudah, selfie apalagi. Kini sudah waktunya melangkahkan kaki ketempat lain. Setidaknya,  perbincangan kami telah terarah pada satu fokus berupa PAR ( participation action research). Selain juga telah mengangkat satu masalah yang sama sama kita alami,'Tepar'. Selanjutnya saya simpulkan menjadi Fokus Masalah yaitu: PAR-Tepar.

Gondanglegi, Jum'at 25 Desember 2015
Tag : Cerito
0 Komentar untuk "Kerja Kunjungan Kelompok"

Back To Top