Catatan Ide sederhana

Bid'ah Barakah


Bid'ah?

Maulid nabi salah satu tema yang menarik pro kontra terkait keabsahannya. Perdebatan klasik ini masih saja terdengar suaranya, dari bilik-bilik sampai publik, sampai kini . Lebel bid'ah bahkan sampai taraf sesat untuk ritual ini,lantang diperdengarkan oleh sebagian golongan. Golongan lain yang tak sepaham, lantas memberikan dalil naqli dan atau aqli sebgai tanggapan ujaran bid'ah, dsb. Sahut menyahut dua suara yang tak senada itu tak henti-hentinya terus menyuara. entah sampai kapan endingnya.
Perbedaan tersebut juga mewarnai obrolan saya dengan teman sekelompok kkn diteras posko. Entah mengapa tema ini juga menarik untuk kami perbincangkan. Mungkin karena sebgaian besar dari kami adalah alumni pesantren. Dua diantara kami merupakan alumni salah satu pesantren besar di jawa timur. Lirboyo. Yang tak kalah menarik kami neradegan sebagai kelompok yang pro, sebgaian mnjdi beradegan sebgai kelompok kontra. Adu argumenpun menhangatkan senja dengan guyuran hujan.
Senja telah lewat.  Adu argumen mulai surut oleh Gemertak paduan suara sandal, bakiak beradu dengan bekas air hujan yang menggenang di jalanan. Tak ingin ketinggalan, lantas kami menyatu dengan derap  suara tersebut
.
Suaranya padu menuju masjid tempat adzan magrib dikumandangkan. Kalimat adzan telah menemukan titiknya saat berpasang pasang sandal dan bakiak telah terjejer rapi dipelataran masjid. Nampak sandal sandal itu rela menunggu sipemilik sandal dipelataran meski gerimis melumuri disegala sisi.
Aneka buah-buahan terbungkus rapi di dalam nampan  para jamaah yang berjalan  memasuki harim masjid. Kemudian bungkusan bungkusan itu  berbaur dengan aneka warna dan model bungkusan lain yang lebih dahulu datang. Tentunya, setelah pemilik menyerahkannya kepada petugas khusus dari kalangan ibu ibu di sisi selatan ruangan masjid.
Iqomahpun menyeru. Tanda sholat magrib segera dilkasanakan. Para jamaah nampak menyatu dalam satu gerakan, mulai takbir sampai salam. Sebagaimana biasa, dzikir-dzikir pendek dilantunkan setelah salam menutup ritual salat jamaah. Selesai doa, bukannya langsung bubar, namun letak duduk diatur sedemikian rupa mengeliling rapi sembari terus di isi oleh warga yang baru memasuki ruangan masjid. Kecil, dewasa, muda, renta memenuhi ruas ruas masjid. Kaya, miskin, pelajar, pendidik serawung jadi satu. Tidak nampak perbedaannya. Meskipun, jama'ah laki-laki menempati ruang utama masjid, jamaah wanita di sisi selatan. Tembok dominasi kaca tegak manjdi pemisah antara dua ruangan tersebut.
Tak lama kemudian, lambat laun  puja puji kepada nabi di lantunkan. Gempita maulid ad diba'i dan al-barjanji bersenandung nada dengan iringan grup terbangan.  Seantero masjidpun ramai dengan pujian dan doa pada pemimpin dunia, insan pilihan nan agung, Habib al-Mustofa Muhammad  Sollahu'alaihi wasallam.  Keceriaan dan ketentraman jiwa terlukis dari raut muka para jamaah. Sebagian dari anak-anak  sampai berteriak teriak saat mengikuti senandung gema sholawat.Gerakan dua tangan yang mendungak ke langit, menjelaskan betapa kerinduan pada manusia pilihan dirundung masing masing dari mereka. Bahkan, tak hanya satu dua terlihat sampai menumpahkan air mata kerinduan. Corong masjid menggemakan sholawat pada langit yang mulai berbintang
Sholawat ditutup dengan pembacaan doa doa pada ilahi. Suasana lebih sunyi sampai pada suara " al- faatihah" dri pembaca doa. Tak sampai di hitungan menit, sahut menyahut mulai mengirigi pembagian bingkisan oleh petugas khusus yg diawal-awal dipasrahi bungkusan dri jamaah. Anak-anak lain dari jama'ah lain. Seketika bingkisan lewat di depan mata, tangan langsung datang menyergap. Bocah lain, lain tingkah pula. Segera berloncat,lalu berebut bungkusan dengan bocah lainnya. Mungin sabar telah tak bisa lagi ditahan. Alis mengernyut saat berebut, kemudian nyengir saat bungkusan sudah dalam dekapan. Tanpa bisa menahan, petugas pembagi hanya bisa senyum menyeringai mengiringi teriakan " haha, aku dapat" oleh bocah tadi.
Meskipun rebutan mewarnai pembagian, tidak ada keributan disini.  Masing masing jamaah yang hadir kebagian satu persatu dari bungkusan bungkusan itu. Saya dan temen-temen KKN, begitu pula demikian. Bungkusan telah berada di pangkuan kami. Tak lama kemudian sholawat 'pendongkrak' disuarakan, kami dan para jamaah pulang dengan tertib keluar masjid. Senyum terhias dari raut muka para jamaah.  Bungkusan ditangan mengikuti rute sipemilik tangan. Jamaah menuju rumah masing masing dan kami melangkah menuju posko KKN.
Sesampai diposko hanya bungkusan menjadi fokus utama. Maklum, semua perut pada keroncongan.Aneka buah terlihat bersembunyi di balik bungkusan. Tanpa pikir panjang seremonial makan malam dilakukan secra berjamaah. Obrolan tentang pembid'ahan maulid nabi anggap saja selesai disini.

Marhaban ya khoirol Anam.
Tag : Refleksi
0 Komentar untuk "Bid'ah Barakah"

Back To Top